Monday, August 13, 2012

GIVEAWAY Asyiknya Berbisnis




Pembeli :  Mbak, bantal yang paling bagus mana?
Penjual (alias aku) : Oh ini Pak... yang ini 400 ribu, yang ini 250 ribu, kalo yang ini 175 ribu.
Pembeli :  (menelan ludah)  Yang bawahnya Mbak....
Penjual : Harga di bawah itu... ada Pak. Yang ini 125 ribu, kalo yang itu 100 ribu. Yang ini 75 ribu....
Pembeli : Yang biasa biasa aja lah Mbak....
Penjual : Ini 50 ribu... ini 35 ribu... ini 25 ribu....
Pembeli : hhhm... saya mau yang 35 ribu sajalah... 2 ya Mbak...
Penjual : Ok, tambah apa lagi Pak??
Pembeli : Mau nanya Mbak... bantal ini sama yang pillow pillow itu bagusan mana?
Penjual : Pillow yang mana Pak...
Pembeli : Yaa yang orang orang bilang pillow pillow gitu...
Penjual : Pak... bahasa inggrisnya bantal itu pillow. Pillow itu artinya bantal. Coba Bapak lihat semua bantal itu, judulnya pasti ada pillow nya. Yang ini xxxx-pillow, yang itu xxxxx-pillow... semua tulisannya ada pillownya... Jadi yang dimaksud itu pillow yang mana.....
Pembeli : Oooo....



Pembeli : Saya mau beli kasur
Penjual : Ukuran berapa Bu?
Pembeli : Yang paling besar Mbak... tempat tidur saya besar banget kok
Penjual : Ukuran besar itu ada tiga Bu... mulai 160x200, 180x200 atau 200x200. Ibu mau yang mana?
Pembeli : Yang paling besar pokoknya....
Penjual : Yang 200x200 ya Bu....mari milih barangnya disana....

Si Ibu sudah memilih milih, bayar dan barang dikirim ke rumah Si Ibu. Ternyata.... memasukkan kasur ke dalam rumah Si Ibu sangat sulit sekali karena tinggi pintu rumahnya HANYA 180cm. Begitu sudah berhasil masuk, dan dipasang di tempat tidurnya, ternyata lagi.... kasurnya terlalu besar. Tempat tidur Si Ibu berukuran HANYA 160x200cm. 



Pesan Moral :  (1) Jangan meminta yang paling bagus, karena bisa jadi "bagus" itu relatif bagi tiap orang. Jangan meminta yang "Paling Besar" karena bisa jadi itu juga relatif.   (2) Sebaiknya tidak usah menggunakan bahasa inggris, jika tidak mengerti artinya. Banggalah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.




Pembeli : Ini ukurannya berapa ya Mbak?
Penjual :  Itu Pak... bisa dilihat di labelnya. ada ukuran dan ada harganya....
Pembeli : (membaca label) 200 x 300... ini meter apa senti?
Penjual : itu senti Pak, kalo dalam meter yaaa   2 x 3
Pembeli :  berarti 6 ya Mbak?
Penjual : (bingung nih orang ngajak tebak tebakan atau ngetes ya?) Apanya yang 6 Pak?
Pembeli :  Luasnya.
Penjual : oooo.... iya Pak.. luasnya 6.

Pesan Moral :  Karpet biasanya memakai ukuran panjang kali lebar, tidak pernah memakai ukuran Luas, karena karpet dengan ukuran 2x3, 1x6 atau 0,5x12 itu berbeda ukuran dan bentuknya tetapi luasnya sama. Baru kali itu aku menemukan pembeli yang mengukur karpet berdasarkan Luas nya. 





Yup, aku adalah seorang penjual perlengkapan rumah tangga di sebuah toko kecil, di kota kecil pula. Hal yang paling menyenangkan menjadi seorang penjual atau pedagang adalah kita bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari, termasuk dengan "keunikan" nya masing masing yang kadangkala membuat kita gak habis pikir deh. Dan lucunya... meskipun kadang menjengkelkan, tapi kita masih bisa tertawa karenanya. Coba lihat cerita lucu lainnya DISINI, DISANA dan DISITU.






Read More...

Friday, August 3, 2012

Kecil Tak Berdaya

Punya toko bergaya "tradisional" itu ada enaknya..ada gak enaknya. Gak enaknya, pembeli kadang-kadang suka nawar harga seenak udelnya, hingga harus melalui proses tawar menawar yang panjaaaaaang dan laamaaaaaa. Enaknya... kita bisa akrab dengan pembeli, hingga kadang-kadang bisa ngobrol panjang lebar sama pembelinya. Dan gak jarang, pembeli curhat ke kita...

Seperti pagi ini, seorang ibu cantik membeli sebuah karpet di tokoku. Karpet kecil dengan harga tak seberapa, keuntungannya juga tak seberapa, tapi bisa membuat kami larut dalam perbincangan yang luar biasa. Sang Ibu mengawalinya dengan curhatan sedih.

"Anak saya mungkin seumuran sama Mbak" katanya sambil menunjukku. "Dia juga sering belanja kesini lho. Terakhir beli dua bedcover, mungkin dua bulan lalu. Tapi sebulan kemudian, dia meninggal"

Aku tersenyum. "Kenapa Bu? karena sakit?"
"Iya, diabetes"
"Lah...masih muda kok diebetes?"

Sang Ibu lantas melanjutkan, anaknya yang cantik menderita diabetes sejak usia 20. Dan ketika menginjak usia 27, si anak sudah harus cuci darah dua kali dalam seminggu. Dan sebulan yang lalu, ketika usianya masih 28, si anak meninggal. Sang Ibu menangis di hadapanku. Aku menyodorkan tissue dan berusaha menghiburnya sebisaku.

"Sekarang gak ada lagi yang menemani saya belanja gini... bikin kue setiap mau lebaran, yang milihin saya baju. Saya kayaknya... gak ada semangat lagi"

Subhanallaaah..... aku jadi ikut berkaca-kaca mendengar curhatan Sang Ibu.Moment ramadhan dan Idul Fitri seharusnya disambut dengan gembira, tapi Ibu ini ... bagaimana bisa dia bergembira karena masih berkabung kehilangan anak tersayang.





Cobaan berat juga dirasakan oleh dua temanku. Temanku yang pertama merasa sangat sedih di minggu pertama Ramadhan karena Ibunya masuk rumah sakit.  Sang Ibu didiagnosa dula darah yang sangat tinggi dan tekanan darah yang tinggi pula. Kedua penyakit itu bahkan membuat Sang Ibu kehilangan kesadaran beberapa saat. Terbayang bagaimana sedihnya temanku dan keluarganya....

Sedangkan temanku yang kedua, beberapa hari yang lalu mengalami kecelakaan. Dia bahkan tak ingat bagaimana kejadiannya. "Semuanya begitu cepat... dan tiba tiba aku sudah di RS" begitu katanya. Tulang di bahu kanannya patah lumayan parah.

Kejadian-kejadian itu membuatku bersyukur... sekaligus berpikir. Betapa kita sebagai manusia gak ada artinya apa-apa dibanding Kekuasaan Allah. Betapa Allah bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki, dan kita tidak mungkin bisa melakukan apapun untuk sekedar menghalanginya atau menundanya barang sebentar saja. Siapa yang berharap mati muda...atau berharap anaknya meninggal di usia belum kepala tiga? Tak seorang pun berharap Ibunya atau dirinya sendiri... atau anggota keluarga lainnya sakit demikian parah hingga harus menikmati Ramadhan di RS....

Mari bersyukur atas semua nikmat yang sudah kita terima hingga saat ini.... dan mari berpasrah diri, karena kita benar-benar kecil dan tak berdaya...


                                                                   :(



.





Read More...