Lagi duduk berdua di Gado Gado Arjuna Pak Satumin yang lumayan legendaris di Surabaya, sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol ngalor-ngidul. Moment yang jarang banget terjadi, karena sudah lama sekali kami tak bertemu, dan mungkin sudah hampir 20 tahun kami tak pernah punya kesempatan menghabiskan waktu bersama.
Dari segala kerandoman obrolan, sampailah pada satu topik yang lucu tapi ironis.
"Satria gimana kabarnya ?" Aku menanyakan kabar anak sulungnya, Satria namanya. Aku ingat betul ketika temanku ini begitu bangganya mengabarkan anak pertamanya telah lahir, laki laki pula. Dulu pernah sekali ketemu Satria waktu dia masih batita.
Kini kulihat matanya berbinar saat aku mengajaknya ngobrolin soal anak.
"Satria sudah lulus kuliah kedokteran dari Universitas Brawijaya, sekarang lagi koas dia" senyumnya merekah, alisnya naik, memuncakkan bangga. Ia melanjutkan bercerita tentang prestasi prestasi Satria lainnya, dan aku bisa menangkap kebanggaannya. Ikut senang, bayi kecil yang dulu itu ternyata sebentar lagi akan jadi dokter.
"Lalu anakmu ? Yang cantik itu ?" tanyanya setelah ia selesai bercerita.
"Anakku baik baik saja, kenapa emang ?"
"Khadija kan? Yaa gimana sekarang? Aku sering lihat fotonya di statusmu. Kelas berapa dia?"
"Baru kelas 1 SMA"
"Hmm... gimana kalo kita besanan?"
Huuaahahahahhaaa.... seketika itu kami tertawa bersama, sampai sakit perutku. Dia lalu mulai menghitung probabilitas, dari mulai selisih umur yang masih bisa dibilang ideal, membedah karakter dari zodiak masing masing pakai teori astrologi khas "Planet Remaja ANTV" , sampai persamaan latar belakang keluarga masing masing. Aku masih tak bisa berhenti tertawa. Sampai akhirnya aku memutuskan , "Nggak ah, aku gak mau punya besan kayak kamu" . Kayaknya gak enak aja punya besan yang kita tau banget segala aib masa mudanya.
Sambil menikmati gado gado dan teh tawar hangat, kami semakin larut dalam tawa. Tapi kali ini menertawakan diri sendiri yang ternyata sudah sampai di titik ini, titik menjadi orang tua yang berusaha menjodoh-jodohkan anaknya dengan anak temannya. Jadi inget gimana kesalnya saat masih muda ketika hampir menjadi korban perjodohan dari orang tua. Eeeh,... sekarang kita sendiri yang mau jadi otak pelaku perjodohan anak-anak.
Kita sudah tua.
Time flies...