Wednesday, August 19, 2026

Once We Were Us

 



Ini film horor. No Debat !

Film Korea Once We Were Us  (2025) sebenarnya adalah remake dari Film China Us And Them  (2018). Kalo mau bandingin keduanya, menurutku versi china lebih bagus, lebih realistis, dan lebih menyesakkan, lebih "horor". Sementara versi korea visualnya terasa lebih indah dan cinematografinya romantis khas drama seri korea, meskipun tetep horor juga. Saranku, mending nonton Us and Them dulu, kemudian baru nonton Once We Were Us. 



Ceritanya ada cowok dan cewek yang pacaran, mereka baru mulai kerja dan berusaha bertahan hidup di kota besar. Karena keadaan , mereka akhirnya putus. 10 tahun kemudian, gak sengaja mereka bertemu di pesawat. Menjadi penumpang di pesawat yang sama, yang karena cuaca buruk, keberangkatan pesawat ditunda esok hari. Pihak maskapai memberikan kompensasi penginapan untuk semalam. Dan di satu malam inilah cowok dan cewek itu ngobrol lagi secara lebih dewasa tentang masa lalu mereka. 

Disinilah letak horornya. Yang pernah punya mantan dan merasa ada yang  belum bener bener selesai, film ini relate banget. Atau yang selama ini masih terbayang bayang mantan, dan pingiiiiiiiiin banget ketemu, waaah ini film cocok banget. Nyeseknya dapet.  . 

Bagiku, film ini bikin kita mikir. Ketika sebuah perpisahan sudah memberikan sakit yang luar biasa, akankah sebuah pertemuan kembali mampu menyembuhkan segalanya ?





Monday, August 3, 2026

Tukang Kayu

Kami punya seorang tukang kayu yang telah bekerja sejak aku masih sangat kecil. Aku memanggilnya Cak Yo. Dia punya tempatnya sendiri di gudang belakang. Eksklusif, di bawah pohon rindang, hanya dia dan kayu kayunya, dan segala peralatannya. Dulu sepulang sekolah, aku selalu main main di halaman belakang. Waktu itu masih sangat lapang, ada pepohonan, bisa naik sepeda sepuasnya, bisa manjat pohon, dan yang tak kalah menyenangkan adalah gangguin Cak Yo bekerja. Entah apa yang sedang dia kerjakan, yang penting aku gangguin aja. Belajar menggergaji, belajar memaku kayu pakai palu. Berkat Cak Yo pula, waktu kecil aku sudah bisa membuat dingklik, sebuah bangku kecil sederhana dari sisa sisa kayu garapan Cak Yo.

Aku mengakui, hasil karya Cak Yo tuh halus dan bagus. Salah satu hasil karyanya yang sampai sekarang selalu kubanggakan adalah lemari di kamar tidurku. 2006 setelah rumahku habis terbakar, kamarku luluh lantak tinggal abu,  Aku meminta Cak Yo membuatkanku sebuah lemari kayu yang full memenuhi satu sisi dinding, dari lantai sampai atap kamar. Aku berdikusi sama Cak Yo, apa mauku. Aku gambar sebisaku, dan Cak Yo mewujudkannya. Sebuah lemari raksasa, yang harus pakai tangga dulu untuk mencapai rak bagian atasnya.  Salah satu pintunya merupakan kamuflase, karena kalo dibuka, ternyata menuju kamar mandi. Sebuah lemari yang kata orang betawi "Gue banget" . 

Cak Yo kadang juga menerima kerjaan sendiri, di luar kerjaan dari kami. Dan kami tidak keberatan, jadi kadang dia ijin sebulan gak masuk kerja . Pernah juga ijin beberapa bulan karena terima kerjaan di jakarta. Meski begitu, Cak Yo selalu balik lagi ke kami. 

Sampai aku besar, aku masih sering gangguin Cak Yo. Dia gak pernah marah karena tau aku cuma iseng aja. Semakin lama, makin tua... tingkat keisenganku menurun. Udah jarang aku gangguin Cak Yo lagi, karena aku juga usah sibuk di tempat lain. Kalo ketemu, Cak Yo selalu menyapaku,  "Sa.." gitu aja. Kadang aku cuma senyum, tapi seringnya aku ledekin dia. Dan dia selalu menjawab dengan pembelaannya sendiri. Kami selalu berlawanan, tapi  itulah cara kami berkomunikasi. Biar rame aja. 

Salah satu obrolanku dengan Cak Yo yang sudah lama sekali tapi sampai sekarang masih kuingat adalah ketika kami sama sama berdiri di depan toko, bersama yang lain juga , melepaskan adikku dan anak-anaknya kembali ke kota tempat tinggalnya. Cak Yo bertanya pelan "Kamu gak pingin punya anak kayak gitu?"
Males banget kalo diajak ngobrol masalah kayak gini, nanti ujung ujungnya aku dibandingkan sama adikku yang punya anak bertubi tubi, sementara kakaknya ini boro boro punya anak, menikah aja belum. Waktu itu aku menjawabnya "Ah gak enak punya anak, bikin repot aja". 
Cak Yo senyum , sambil bilang "Kamu salah. Punya anak itu .... " Dia diam sebentar. Aku melihatnya, baru kemudian dia melanjutkan, "Bangga. Punya anak itu bangga. Meskipun anaknya gak melakukan apa apa. kita cuma lihat aja, bangganya itu...  wes pokoke, rasakan sendiri nanti kalo kamu punya anak". 
Waktu itu Aku tidak mendebatnya. Entah kenapa, mungkin karena kami sibuk dadah-dadah hingga mobil yang membawa adikku pergi tak terlihat lagi. 

***

Suatu hari... kami menyadari, Cak Yo sudah gak masuk kerja 2 minggu tanpa kabar. Gak biasanya. Kami telpon, nomornya gak aktif. Setelah dicek ke rumahnya, baru kami tau kalo Cak Yo sakit dan dirawat di rumah sakit di Kediri. Kami menjenguk kesana. Baru kali itu, aku menyadari, Cak Yo ternyata sudah tua, rambutnya putih semua,  terlihat lemah, bahkan gak kuat lagi mengangkat palu. Dia masih mengenali ibuku. Meskipun dalam kondisi sakit, dia sempat minta maaf karena gak bisa masuk kerja, padahal masih ada sesuatu yang belum tuntas dikerjakan. 

Aku pegang tangannya, "Cak Yo, ayo cepet sembuh, nanti kita bertengkar lagi... " 
Sedihnya aku saat Cak Yo menjawab, "Siapa ini?"
Dia sudah tak mengenaliku. Padahal dulu akulah yang mengganggunya tiap hari. 

Cak Yo sempat pulang ke rumahnya, namun meninggal tak lama kemudian. 



Kira kira seminggu kemudian, aku bertemu Cak Yo. Dia datang ke tokoku, seperti biasa  sambil membawa perlengkapannya, palu paku dan teman temannya. Tapi kali ini, Cak Yo terlihat glowing ganteng sekali, raut wajahnya tenang positive vibes banget, bajunya putih, rambutnya rapi dan bersih, seperti tampak baru selesai mandi. Ajaibnya, aku melihat ada semacam lampu sorot di atasnya, yang mengikuti pergerakannya, mirip lampu sorot di panggung broadway, yang selalu menyoroti satu pemain utama.  Aku begitu gembira melihatnya datang, kesempatan untuk langsung nyerocos panjang, komplain kenapa rak rak di tokoku belum dibenerin juga, kenapa etalase yang rusak, lalu engsel yang mau copot, trus permintaan ganti kunci laciku karena kuncinya aku hilangkan, tak juga diselesaikannya. Tapi Cak Yo cuma senyum lihat aku nyerocos, sambil berlalu gitu aja, cuma menyapaku "Sa.." dan terus jalan dengan santai masuk ke belakang toko. Aku melihatnya keheranan, gak biasanya Cak Yo cuma diam saja tanpa pembelaan, tanpa pertengkaran lucu diantara kami. Dan aku terbangun dari tidur, masih dengan rasa penuh heran. Kok bisa Cak Yo datang ke mimpiku, Kok bisa Cak Yo seglowing itu... kok bisa ada lampu sorot broadway yang meneranginya kemanapun dia melangkah.  Apa amalan Cak Yo selama ini ? 




ngomongin soal mimpi ,  kayaknya nyambung banget sama yang ini. aku sedang berusaha mengkhatamkan buku tebal ini. Ternyata bagus banget. Ada yang sudah baca ?

Tuesday, June 2, 2026

Kualat

DULU

Ingat sekali, aku pernah membully nenekku, karena beliau tergila gila akan Tersanjung dan Cinta Fitri. Sebagai penggemar sinetron garis keras, Nenekku akan kebingungan jika melewatkan 1 episode, serasa dunia ini hampa jika belum mengetahui perkembangan nasib Si Fitri dan teman temannya itu. Nenekku bahkan turut menangis saat Si Fitri tersakiti, juga ikut serta mengutuki para antagonis. 


KINI

Aku malu mengakui, aku sama gilanya dengan nenekku dulu. 


Sejak ditinggal anak mondok ke pesantren, rasanya kayak kena post-powersyndrome. Yang biasanya tiap hari ngurusin anak, trus tiba tiba anaknya gak ada, jadi bingung mau ngurusin apa. Alhamdulillah masih tetap bekerja ya, tapi kebiasaan kebiasaan --seperti antar jemput anak sekolah, lalu nyiapin makan dan lain sebagainya, hingga harus ngomel tiap hari untuk mengingatkan belajar ini itu-- yang kemudian hilang, sehingga terasa punya lebih banyak waktu menganggur, berbuah kebingungan yang bikin gak tau harus ngapain. 

Dari waktu-waktu menganggur itulah, aku nyoba nyoba nonton drama korea. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, aku pun terhanyut sampai ke Korea. 16 episode, biasanya habis dalam waktu 2-3 hari. Gila kan ?

Lalu setahun belakangan ini, dari korea, hanyut lagi sampai ke China. Lebih gila lagi, 30-40 episode drama china bisa dikhatamkan dalam tempo 3-4 hari saja. 


Pesan moralnya adalah, Kualat itu nyata !  
pingin minta maaf ke almarhumah nenekku, karena aku sudah membullynya dulu. 



Btw, ada yang udah nonton We Are All Trying Here ?  nih drama baguuuuuuuuus banget ya ? 
salah satu favoritku sih ini. 

Monday, April 6, 2026

istighfar

 Di toko tuh ada 6 pegawai yang bisa dibilang sudah pintar semua lah. udah bisa "jalan" sendiri, aku tinggal ngawasin aja gitu. Karena keenakan, aku jadi santai. Kadang malah aku yang tanya ke mereka tentang ini itu di toko, karena mereka lebih tahu seluk beluknya daripada aku, selaku ownernya.

Nah, kemudian datanglah proyek MBG. Salah satu pegawaiku in kepincut MBG, yang notabene menawarkan gaji lebih besar, masa kerja lebih singkat, bonus lebih menggiurkan. Sialnya, yang satu itu mengajak teman temannya, dan mereka semua resign berjamaah. 

Gak usah diceritain lah gimana kelabakannya aku, ditinggalkan semua pegawai begitu aja. Jelas bingung, but show must go on kan? Nyari pegawai baru juga gak semudah itu. Selama masa yang tidak mudah itu, aku dapat pinjaman 1 orang pegawai dari toko orang tua. Alhamdulillah kan, disyukuri aja , daripada gak ada pegawai sama sekali.

Nah, sebagai anak baru , dia pasti gak ngerti apa apa. Bisa dimaklumi. Tapi dari minggu awal bekerja di sini, aku bisa tahu kalo nih anak baru memang di bawah rata rata. Sampai sampai aku lah yang harus belajar menyesuaikan diri, gimana memberi instruksi yang tepat dan singkat agar bisa ditangkap dan dimengerti olehnya. 

Sekarang, sudah masuk bulan ke 5 dia bekerja bersamaku. Jangan ditanya gimana kepalaku selama 5 bulan terakhir, rasanya kepala gak cuman pecah aja, gak cuman berkeping-keping, tapi udah lembut jadi bubuk halus  karena terlalu sering pecah. Kayaknya tiap hari , aku dibikin istighfar sama kelakuan si anak baru.   

Pada akhirnya aku mikir banget, apa memang gini caranya Allah bikin aku istighfar terus, dipaksa oleh keadaan untuk  belajar menahan amarah, belajar mengendalikan emosi, belajar nge-rem, dan yang terpenting belajar sabar. 


Astaghfirullah...  

Friday, February 20, 2026

Di Gado Gado Arjuna

 Lagi duduk berdua di Gado Gado Arjuna Pak Satumin yang lumayan legendaris di Surabaya, sambil menunggu pesanan  datang, kami ngobrol ngalor-ngidul. Moment yang jarang banget terjadi, karena sudah lama sekali kami tak bertemu, dan mungkin sudah hampir 20 tahun kami tak pernah punya kesempatan menghabiskan waktu bersama. 

Dari segala kerandoman obrolan, sampailah pada satu topik yang lucu tapi ironis. 

"Satria gimana kabarnya ?" Aku menanyakan kabar anak sulungnya, Satria namanya. Aku ingat betul ketika temanku ini begitu bangganya mengabarkan anak pertamanya telah lahir, laki laki pula. Dulu pernah sekali ketemu Satria waktu dia masih batita. 

Kini kulihat matanya berbinar saat aku mengajaknya ngobrolin soal anak. 

"Satria sudah lulus kuliah kedokteran dari Universitas Brawijaya, sekarang lagi koas dia" senyumnya merekah, alisnya naik, memuncakkan bangga. Ia melanjutkan bercerita tentang prestasi prestasi Satria lainnya, dan aku bisa menangkap kebanggaannya. Ikut senang, bayi kecil yang dulu itu ternyata sebentar lagi akan jadi dokter.

"Lalu anakmu ? Yang cantik itu ?" tanyanya setelah ia selesai bercerita. 

"Anakku baik baik saja,  kenapa  emang ?"

"Khadija kan? Yaa gimana sekarang? Aku sering lihat fotonya di statusmu. Kelas berapa dia?"

"Baru kelas 1 SMA" 

"Hmm... gimana kalo kita besanan?" 

Huuaahahahahhaaa.... seketika itu kami tertawa bersama, sampai sakit perutku. Dia lalu mulai menghitung probabilitas, dari mulai selisih umur yang masih bisa dibilang ideal, membedah karakter dari zodiak masing masing pakai teori astrologi khas "Planet Remaja ANTV" ,  sampai persamaan latar belakang keluarga masing masing. Aku masih tak bisa berhenti tertawa. Sampai akhirnya aku memutuskan , "Nggak ah, aku gak mau punya besan kayak kamu" . Kayaknya gak enak aja punya besan yang kita tau banget segala aib masa mudanya. 

Sambil menikmati gado gado dan teh tawar hangat, kami semakin larut dalam tawa. Tapi kali ini menertawakan diri sendiri yang ternyata sudah sampai di titik ini, titik menjadi orang tua yang berusaha menjodoh-jodohkan anaknya dengan anak temannya. Jadi inget gimana kesalnya  saat masih  muda  ketika hampir menjadi korban perjodohan dari orang tua. Eeeh,... sekarang kita sendiri yang mau jadi otak pelaku perjodohan anak-anak. 

Kita sudah tua. 

Time flies...