Wednesday, August 19, 2026
Once We Were Us
Monday, August 3, 2026
Tukang Kayu
Sampai aku besar, aku masih sering gangguin Cak Yo. Dia gak pernah marah karena tau aku cuma iseng aja. Semakin lama, makin tua... tingkat keisenganku menurun. Udah jarang aku gangguin Cak Yo lagi, karena aku juga usah sibuk di tempat lain. Kalo ketemu, Cak Yo selalu menyapaku, "Sa.." gitu aja. Kadang aku cuma senyum, tapi seringnya aku ledekin dia. Dan dia selalu menjawab dengan pembelaannya sendiri. Kami selalu berlawanan, tapi itulah cara kami berkomunikasi. Biar rame aja.
Males banget kalo diajak ngobrol masalah kayak gini, nanti ujung ujungnya aku dibandingkan sama adikku yang punya anak bertubi tubi, sementara kakaknya ini boro boro punya anak, menikah aja belum. Waktu itu aku menjawabnya "Ah gak enak punya anak, bikin repot aja".
Cak Yo senyum , sambil bilang "Kamu salah. Punya anak itu .... " Dia diam sebentar. Aku melihatnya, baru kemudian dia melanjutkan, "Bangga. Punya anak itu bangga. Meskipun anaknya gak melakukan apa apa. kita cuma lihat aja, bangganya itu... wes pokoke, rasakan sendiri nanti kalo kamu punya anak".
Sedihnya aku saat Cak Yo menjawab, "Siapa ini?"
Dia sudah tak mengenaliku. Padahal dulu akulah yang mengganggunya tiap hari.
ngomongin soal mimpi , kayaknya nyambung banget sama yang ini. aku sedang berusaha mengkhatamkan buku tebal ini. Ternyata bagus banget. Ada yang sudah baca ?
Tuesday, June 2, 2026
Kualat
DULU
Ingat sekali, aku pernah membully nenekku, karena beliau tergila gila akan Tersanjung dan Cinta Fitri. Sebagai penggemar sinetron garis keras, Nenekku akan kebingungan jika melewatkan 1 episode, serasa dunia ini hampa jika belum mengetahui perkembangan nasib Si Fitri dan teman temannya itu. Nenekku bahkan turut menangis saat Si Fitri tersakiti, juga ikut serta mengutuki para antagonis.
KINI
Aku malu mengakui, aku sama gilanya dengan nenekku dulu.
Sejak ditinggal anak mondok ke pesantren, rasanya kayak kena post-powersyndrome. Yang biasanya tiap hari ngurusin anak, trus tiba tiba anaknya gak ada, jadi bingung mau ngurusin apa. Alhamdulillah masih tetap bekerja ya, tapi kebiasaan kebiasaan --seperti antar jemput anak sekolah, lalu nyiapin makan dan lain sebagainya, hingga harus ngomel tiap hari untuk mengingatkan belajar ini itu-- yang kemudian hilang, sehingga terasa punya lebih banyak waktu menganggur, berbuah kebingungan yang bikin gak tau harus ngapain.
Dari waktu-waktu menganggur itulah, aku nyoba nyoba nonton drama korea. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, aku pun terhanyut sampai ke Korea. 16 episode, biasanya habis dalam waktu 2-3 hari. Gila kan ?
Lalu setahun belakangan ini, dari korea, hanyut lagi sampai ke China. Lebih gila lagi, 30-40 episode drama china bisa dikhatamkan dalam tempo 3-4 hari saja.
Pesan moralnya adalah, Kualat itu nyata !
pingin minta maaf ke almarhumah nenekku, karena aku sudah membullynya dulu.
Btw, ada yang udah nonton We Are All Trying Here ? nih drama baguuuuuuuuus banget ya ?
salah satu favoritku sih ini.
Monday, April 6, 2026
istighfar
Di toko tuh ada 6 pegawai yang bisa dibilang sudah pintar semua lah. udah bisa "jalan" sendiri, aku tinggal ngawasin aja gitu. Karena keenakan, aku jadi santai. Kadang malah aku yang tanya ke mereka tentang ini itu di toko, karena mereka lebih tahu seluk beluknya daripada aku, selaku ownernya.
Nah, kemudian datanglah proyek MBG. Salah satu pegawaiku in kepincut MBG, yang notabene menawarkan gaji lebih besar, masa kerja lebih singkat, bonus lebih menggiurkan. Sialnya, yang satu itu mengajak teman temannya, dan mereka semua resign berjamaah.
Gak usah diceritain lah gimana kelabakannya aku, ditinggalkan semua pegawai begitu aja. Jelas bingung, but show must go on kan? Nyari pegawai baru juga gak semudah itu. Selama masa yang tidak mudah itu, aku dapat pinjaman 1 orang pegawai dari toko orang tua. Alhamdulillah kan, disyukuri aja , daripada gak ada pegawai sama sekali.
Nah, sebagai anak baru , dia pasti gak ngerti apa apa. Bisa dimaklumi. Tapi dari minggu awal bekerja di sini, aku bisa tahu kalo nih anak baru memang di bawah rata rata. Sampai sampai aku lah yang harus belajar menyesuaikan diri, gimana memberi instruksi yang tepat dan singkat agar bisa ditangkap dan dimengerti olehnya.
Sekarang, sudah masuk bulan ke 5 dia bekerja bersamaku. Jangan ditanya gimana kepalaku selama 5 bulan terakhir, rasanya kepala gak cuman pecah aja, gak cuman berkeping-keping, tapi udah lembut jadi bubuk halus karena terlalu sering pecah. Kayaknya tiap hari , aku dibikin istighfar sama kelakuan si anak baru.
Pada akhirnya aku mikir banget, apa memang gini caranya Allah bikin aku istighfar terus, dipaksa oleh keadaan untuk belajar menahan amarah, belajar mengendalikan emosi, belajar nge-rem, dan yang terpenting belajar sabar.
Astaghfirullah...
Friday, February 20, 2026
Di Gado Gado Arjuna
Lagi duduk berdua di Gado Gado Arjuna Pak Satumin yang lumayan legendaris di Surabaya, sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol ngalor-ngidul. Moment yang jarang banget terjadi, karena sudah lama sekali kami tak bertemu, dan mungkin sudah hampir 20 tahun kami tak pernah punya kesempatan menghabiskan waktu bersama.
Dari segala kerandoman obrolan, sampailah pada satu topik yang lucu tapi ironis.
"Satria gimana kabarnya ?" Aku menanyakan kabar anak sulungnya, Satria namanya. Aku ingat betul ketika temanku ini begitu bangganya mengabarkan anak pertamanya telah lahir, laki laki pula. Dulu pernah sekali ketemu Satria waktu dia masih batita.
Kini kulihat matanya berbinar saat aku mengajaknya ngobrolin soal anak.
"Satria sudah lulus kuliah kedokteran dari Universitas Brawijaya, sekarang lagi koas dia" senyumnya merekah, alisnya naik, memuncakkan bangga. Ia melanjutkan bercerita tentang prestasi prestasi Satria lainnya, dan aku bisa menangkap kebanggaannya. Ikut senang, bayi kecil yang dulu itu ternyata sebentar lagi akan jadi dokter.
"Lalu anakmu ? Yang cantik itu ?" tanyanya setelah ia selesai bercerita.
"Anakku baik baik saja, kenapa emang ?"
"Khadija kan? Yaa gimana sekarang? Aku sering lihat fotonya di statusmu. Kelas berapa dia?"
"Baru kelas 1 SMA"
"Hmm... gimana kalo kita besanan?"
Huuaahahahahhaaa.... seketika itu kami tertawa bersama, sampai sakit perutku. Dia lalu mulai menghitung probabilitas, dari mulai selisih umur yang masih bisa dibilang ideal, membedah karakter dari zodiak masing masing pakai teori astrologi khas "Planet Remaja ANTV" , sampai persamaan latar belakang keluarga masing masing. Aku masih tak bisa berhenti tertawa. Sampai akhirnya aku memutuskan , "Nggak ah, aku gak mau punya besan kayak kamu" . Kayaknya gak enak aja punya besan yang kita tau banget segala aib masa mudanya.
Sambil menikmati gado gado dan teh tawar hangat, kami semakin larut dalam tawa. Tapi kali ini menertawakan diri sendiri yang ternyata sudah sampai di titik ini, titik menjadi orang tua yang berusaha menjodoh-jodohkan anaknya dengan anak temannya. Jadi inget gimana kesalnya saat masih muda ketika hampir menjadi korban perjodohan dari orang tua. Eeeh,... sekarang kita sendiri yang mau jadi otak pelaku perjodohan anak-anak.
Kita sudah tua.
Time flies...
