Thursday, October 23, 2014

Cuci Mata di Grand Bazaar





Grand Bazaar. Inilah tempat yang dituju jika kita ingin belanja oleh oleh khas turki. Grand Bazaar merupakan pasar tradisional yang didirikan pada tahun 1461, termasuk salah satu pasar terbesar dan tertua di dunia. Jangan bayangkan Grand Bazaar dengan pasar tradisional di Indonesia ya... karena Grand Bazaar di Istambul ini adalah pasar yang tertutup, indoor, dengan arsitektur yang menakjupkan. Dikatakan salah satu tertua di dunia, pasti tak diragukan lagi, karena sudah berumur lebih dari 500 tahun ! Dan dikatakan sebagai salah satu yang terbesar di dunia, juga sudah pasti. Karena di dalamnya ada lebih dari 3000 toko. Pengunjung perhari rata rata mencapai 300.000 hingga 400.000 manusia.




Grand Bazaar itu luas sekali, tentu saja ada banyak pintu masuk menuju Grand Bazaar. Dan ada jaauuuuhhh lebih banyak lorong lorong yang saling bersimpangan di dalamnya. Cukup membingungkan, dan siap siap tersesat, hahahaha.... Karena perlu waktu seharian jika ingin mengelilingi seluruh Grand Bazaar, sementara aku tidak punya banyak waktu saat itu, maka aku cuma menyusuri tak lebih dari 10 lorong. Sebenarnya, itu juga karena aku takut tersesat, hehehehe

Bangunan yang berusia lebih dari 500 tahun ini tetap kokoh berdiri, menaungi ratusan ribu pengunjung tiap harinya. Dan yang paling kusuka adalah langit langitnya yang memakai warna dasar kuning. Ornamen bunga bunga menghiasai setiap sudut, hampir mirip dengan ornamen bunga bunga yang kulihat di Blue Mosque.  Dan satu lagi yang membuatku takjub, seluruh lantai di dalam Grand Bazaar menggunakan batu marmer. 





Semuanya ada di Grand Bazaar. Seluruh kerajinan khas turki bisa ditemukan di sini. Kerajinan tembikar, kerajinan perhiasan emas, permadani handmade, kain kain tenun yang sudah di sulap jadi tas, dompet, peci atau sarung bantal. Aneka bumbu, macam macam teh, manisan dan lain sebagainya. Makanan khas turki juga banyak sekali. Tapi jangan harap menemukan barang barang bermerk disini ya, karena ini adalah pasar tradisional yang khusus menjual hasil karya rakyat turki.

Jadi mari mari... ikut aku cuci mata di Grand Bazaar...



























Bagaimana?
Jalan jalan ke pasar seperti ini jelas membutuhkan iman yang kuat ya. Karena kalo gak kuat, bisa bisa kalap, pingin beli semuanya. Ingat ingat, sesuaikan dengan kondisi kantong atau dompet, selama dompetnya masih sehat dan gemuk, boleh boleh aja belanja banyak, tapi kalo dompetnya mulai kurus kering dan layu...sebaiknya puasa dulu, hehehehe...

Oh ya, ada satu pengalaman yang aku pikir bisa dishare di sini. Waktu pulang dari Grand Bazaar, ada teman seperjalanan yang mengeluhkan tentang satu atau dua penjual di sana yang dinilainya  kurang sopan. Dia tidak menjelaskan bagaimana bentuk ketidaksopanan itu, tapi yang pasti dia merasa dilecehkan sebagai perempuan. Aku sih menganggapnya, mungkin dia digodain sedikit, atau tak sengaja dipegang atau gimana, yang jelas teman perempuanku itu tidak senang. Aku memang tidak tahu kejadiannya, karena sewaktu di dalam sana kami berpisah, aku dan ibuku belanja sendiri, dia juga belanja sendiri bersama temannya. Nah, dari pengalamanku belanja di Grand Bazaar, cuci mata ke banyak sekali toko, tawar menawar dengan lebih dari 20 penjual, tak seorang pun penjual yang semuanya adalah lelaki itu melecehkanku. Tak seorangpun! Mereka semua memperlakukan kami secara sopan dan baik, mereka hormat dan kami saling menghargai.

Setelah kupikir pikir lagi, apa yang membuat temanku tadi mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, ternyata itu bisa jadi karena temanku memakai pakaian yang "menurutku" kurang sopan. Aku tidak akan menjelaskan bagaimana pakaiannya, karena kita semua punya standar yang berbeda tentang bagaimana pakaian bisa dikatakan sopan dan tidak sopan. Tapi itu menurutku ya... sekali lagi, berdasarkan penilaianku. 

Jika kita berada di lingkungan yang berbeda, misalnya pergi ke negara lain, tentu saja sebaiknya kita juga memperhatikan norma yang berlaku di tempat itu. Setuju kan?



Friday, October 17, 2014

My Powerpuff Girls


Aku sedang menikmati Jogja saat itu, bersama sahabatku Dewi, saat aku merasa ada yang janggal di dadaku sebelah kiri. Tiga benjolan tak lebih besar dari telur puyuh, rasanya cukup nyeri. Tentu saja aku panik, jangan jangan ini tumor payudara? Jangan jangan ini kanker payudara? Duuuh, membayangkannya saja sudah sangat menakutkan.

Tentu saja Dewi, sahabatku sejak SMA ini langsung sadar ada yang tidak beres ketika melihat air mukaku berubah. Tapi aku tidak bercerita, karena kami masih punya satu hari lagi di Jogja. Its vacation time, jadi harus benar benar dinikmati meskipun ada sesuatu yang membuatnya terasa kurang nyaman, tapi  malamnya kami masih sempat nonton di Plaza Ambarukmo. Liburan hari itu terasa sangat menyenangkan dan Alhamdulillah kami menikmati Saturday Night in Yogyakarta yang sungguh indah. Sampai akhirnya ketika menjelang pulang ke Jawa Timur, di stasiun sambil menunggu kereta, aku pun menceritakan kegelisahanku. Tentu saja Dewi membesarkan hatiku, mengatakan hal hal klise yang meskipun aku tahu itu klise, tapi somehow cukup menenangkanku. "Semua akan baik baik saja..."

Bersama Dewi, nonton di Ambarukmo Plaza Yogyakarta

Aku ingat betul, sepanjang perjalanan di kereta, kami sibuk mencari informasi tentang kanker payudara di internet. Hampir semua sumber menyatakan, bahwa tumor ataupun kanker payudara bersifat genetis. Artinya, jika kita punya Nenek dan Ibu yang terserang kanker, maka sagat BESAR kemungkinannya kita juga akan bernasib serupa.  Aku langsung ingat, Kakakku dulu juga pernah terserang tumor payudara, Alhamdulillah tumor jinak, yang setelah dilakukan operasi, dokter menyatakan bersih. Jika kakak mengalaminya, berarti aku juga punya "kemungkinan" itu.  Sayang Kakakku sudah tiada, aku tak bisa lagi bertanya dan berkeluh kesah tentang hal ini. Tapi aku masih punya satu sahabat yang juga pernah mengalaminya, Ika namanya.

Rasanya seperti masih kemarin, ketika aku dan Merry ikut melepaskan Ika ke kamar operasi, menungguinya hingga selesai di Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya. Kami bertiga masih kuliah saat itu. Saking dekatnya atau entah saking konyolnya (mungkin kata yang terakhir jauh lebih tepat), kami bertiga menamai diri sebagai PowerPuff Girl, mencomot tokoh animasi produksi Nickleodeon. So silly huh?





Ika juga pernah menderita tumor payudara kala itu. Operasi pengangkatan tumor sudah sukses dilakukan, tapi tentu saja secara berkala ia tetap menjalani wajib lapor ke dokter untuk mengecek perkembangan kesehatan payudaranya. Sebagai orang yang sudah berpengalaman menghadapi hal semacam itu, aku segera menelponnya, menceritakan masalahku. Lama sekali kami bicara di ponsel, Ika menceritakan segala prosedurnya, dan aku banyak sekali bertanya hal hal kecil mendetail. Dia berusaha membesarkan hatiku, tapi jujur saja, aku semakin diserang ketakutan.

Setelah bicara dengan Ika, aku juga segera menelpon personel PowerPuff Girl lainnya, Merry. Aku mulai bercerita tentang benjolan dan sakit yang kurasakan. Segala ketakutanku, dan kekhawatiranku berkenaan dengan dokter laki laki atau perempuan yang akan aku hadapi juga aku sampaikan. Sahabatku ini sangat sangat mengerti keinginanku untuk segera menemukan dokter perempuan yang tepat. Merry dengan sangat sigap segera bertindak. Malam itu juga, ketika aku masih di duduk di bangku kereta, Merry sudah mencari segala informasi yang dibutuhkan. Dan sekitar satu jam kemudian, Merry melaporkan, "Aku sudah menemukan dokter perempuan untukmu, di RS Onkologi Surabaya. Besok sepagi mungkin aku akan membuat janji dengannya, atas namamu. Tetap tenang, jangan lama lama nangisnya ya"

RS Onkologi Surabaya kini terletak di Araya Galaxy Bumi Permai blok A2 nomor 7 Surabaya. Aku ingat dulu kakakku juga menjalani operasi pengangkatan tumor juga di RS Onkologi, tapi waktu itu RS Onkologi masih beralamatkan di Jalan Bawean. Kini RS Onkologi Surabaya sudah memiliki gedung sendiri yang jauuh lebih megah, dan pastinya lebih nyaman. RS Onkologi adalah rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan khusus pada masalah kanker. Tidak hanya pada kanker payudara, tetapi juga meliputi beberapa jenis kanker lainnya.



Keesokan harinya, aku memulai hari dengan gelisah. Sekitar pukul 8, Merry sudah memberi kabar. "Sa, Aku sudah bikin janji untuk hari kamis jam 11 siang. Aku juga sudah calling Ika untuk gabung. Nanti aku sama Ika temani kamu ke RS Onkologi. Kamu siap kan? Kita hadapi bertiga"

Oh God, sudah hampir  10 tahun berlalu, sejak kami sama sama di wisuda dari kampus yang sama, tapi dua sahabatku di Surabaya itu tetap bisa menjadi saudara perempuan yang bisa diandalkan.

Merry-Elsa-Ika masih kuliah beribu ribu tahun yang lampau


Dua hari kemudian, hari kamis pun tiba. Pagi pagi sekali aku meluncur ke Surabaya. Merry menjemputku di satu tempat, lalu kami berdua ke RS Onkologi. Di sana Ika sudah menunggu. Dua sahabatku ini terpaksa harus ijin dari tempat kerjanya masing masing demi untuk menemaniku bertemu dokter. Aku gugup bukan main. Merry sibuk mengurusi adminitrasinya, sementara Ika berusaha menghiburku dengan menceritakan hal hal baik berkaitan dengan prosedur yang akan kujalani. Kami bertiga pun akhirnya larut dalam nostalgia masa kuliah, sambil menikmati sofa empuk di ruang tunggu, menunggu giliranku masuk ke ruang periksa. Bercanda bersama mereka berdua bisa mengurangi keteganganku.

Dewi menelpon menanyakan hasilnya sesaat sebelum aku dipanggil perawat. Aku pun meminta Dewi untuk bersabar, karena aku baru akan diperiksa. Ika dan Merry menemaniku masuk ke ruang dokter, dan di sana aku senang sekali bertemu seorang dokter perempuan yang cantik dan lembut sekali, dr Dwirani  R Pratiwi namanya. Kami bicara panjang lebar, beliau juga menjelaskan banyak hal tentang kanker payudara, penyebab, gejala dan lain sebagainya. Kemudian untuk observasi lebih lanjut, aku harus menjalani USG di ruang yang berbeda. Kali ini aku harus masuk sendiri, takut sih pada asalnya. Tapi lagi lagi aku bertemu dengan seorang radiologist perempuan yang cantik dan lembut, yang bisa menenangkanku.

Langkah selanjutnya adalah menunggu hasilnya. Kami bertiga kembali duduk di ruang tunggu, bercanda dan bercerita, menggosip dan menggombal, apapun itu untuk melenyapkan segala kegugupan atas hasil pemeriksaan nanti. Sementara itu, Dewi yang juga concern akan keadaanku berkali  kali mengirimkan pesan, menanyakan hasilnya dan memberiku semangat.

Kami bertiga benar benar terlibat sebuah becandaan seru di ruang tunggu itu, tapi deep inside... saat saat menunggu di sana merupakan saat saat yang sangat mendebarkan. Ini berkaitan dengan hidupku selanjutnya, siapa yang tak berdebar?
Hingga akhirnya seorang perawat memanggil namaku, dan mempersilakanku masuk menemui dokter. Aku menggandeng tangan Merry, dan Merry mempererat genggamannya. Ika menepuk bahuku sambil berjalan di belakang kami berdua. Sesaat kemudian kami bertiga duduk menghadap dokter, dan Bu Dokter yang cantik menangkap keteganganku. Aku tak bisa bicara, begitupun dengan Merry. Ika yang akhirnya mengawali pertanyaan, "Bagaimana dok?"

Bu Dokter yang cantik itu tersenyum, ia berkata  "Alhamdulillah..."

entah kenapa,  tepat saat itu rasanya ada sebuah batu sebesar jabal uhud yang tadinya ada di bahuku terasa terangkat dengan sendirinya. Bu Dokter cantik belum meneruskan kalimatnya, tapi mendengar kata Alhamdulillah, aku mengartikannya sebagai sebuah vonis yang menggembirakan, yang membebaskan.

"Ini cuma pembengkakan biasa, bisa karena hormon, atau ...."
"Bukan tumor atau kanker?" tanyaku memotong penjelasannya. Aku benar benar butuh diyakinkan lebih yakin lagi, seyakin yakinnya.

"Bukan" katanya tegas, tetap sambil tersenyum, tampaknya beliau sangat paham pasiennya yang ini teramat sangat ketakutan. Dan alhamdulillah, jawaban Bu Dokter cantik bisa membuatku kembali bernafas, yang tadinya serasa hendak menghadapi algojo untuk hukuman mati, kini seolah olah seorang algojo menakutkan yang besar dan kekar berkata padaku  "You are free to go".

Alhamdulillaaaahhh.....

Kami berpisah tak lama kemudian, Ika dan Merry harus kembali ke kantornya masing masing. Sebelum berpisah, tiga personel powerpuff girls  yang konyol ini berpelukan. Aku katakan pada mereka, terima kasih. Cuma terima kasih, tapi aku yakin mereka tahu maknanya jauh lebih besar dari yang diucapkan. Aku sangat bersyukur atas semuanya, termasuk bersyukur punya powerpuff girls yang selalu powerfull selalu siap diandalkan kapan saja.


Powerpuff Girls (versi konyol) yang sudah pada tua. Ika paling kiri, Merry di tengah.


Aku menatap mereka pergi menjauh, sambil mengambil ponselku. Ternyata ada 5 pesan dari Dewi, dan 6 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Aku segera menelpon Dewi balik, dan langsung mengatakan "I'm free Wi ... I'm free"

Dan aku mendengar dengan jelas di ponsel, sahabatku yang tinggal di Kediri  itu berteriak kegirangan "Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh"




dedicated to My Powerpuff Girls; Ika and Merry
also to Dewi, my partner in crime and craziness

Monday, September 29, 2014

Desert Safari Dubai (part 1)



Dubai gak punya alam yang indah seperti Indonesia, hamparan sawah menghijau atau hujan rimba yang pekat, Air terjun yang dingin atau puncak gunung bersalju. Semua keindahan alam di Dubai adalah buatan manusia, kecuali gurun pasirnya, tentu saja. Mungkin itu satu satunya keistimewaan alam Dubai yang asli bikinin Tuhan. 

Gurun pasir yang tandus, super panas, dan konon katanya memiliki keindahan yang mematikan, kini sudah tak lagi mengerikan. Orang-orang Dubai sudah bisa menyulap gurun pasirnya menjadi arena bermain adrenalin, mereka menyebutnya Desert Safari. 

Turis yang sudah mendaftar untuk desert safari ini akan dijemput di hotel sekitar pukul 14:30 waktu setempat, lalu butuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapai gurun pasir yang dituju. Desert Safari biasanya berupa rombongan atau konvoi beberapa mobil, karena wisata ini lebih asyik dilakukan beramai ramai. Begitu sampai di gurun pasir, mobil akan berhenti sejenak. Sopir kemudian mengatur tekanan ban, sedikit dikempesi, agar memudahkan mobil bermanuver dan meliuk liuk di bukit bukit pasir. 

Tak lama kemudian, gurun pasir yang luas dan berbukit bukit menjadi landasan pacu mobil mobil keren. Satu mobil memimpin di depan, dan lainnya berbaris di belakang seraya menjaga jarak tetap aman. Letak keasyikannya adalah ketika mobil meloncat, atau miring... menukik tajam, dan bermanuver dengan indahnya. Penumpang akan merasakan hentakan hentakan, kemiringan mobil dan keseruan lainnya, tentu saja sambil menjerit jerit ketakutan. Keasyikan lainnya ketika melihat mobil di depan atau di belakang kita melakukan akrobat, itu yang membuat penumpang berdecak kagum, juga menyiapkan kondisi jantung karena artinya tak lama lagi giliran mobil yang kita tumpangi akan melakukan hal serupa. 








Aku lupa menghitung waktu berapa lama kami berkendara, tapi belum selesai kami tertawa tawa karena merasakan isi perut dikocok, rombongan konvoi desert safari kemudian berhenti. Penumpang dipersilakan untuk turun dan menikmati  bukit bukit pasir di sekelilingnya. Lupakan sandal atau sepatu, karena merasakan pasir gurun yang sangat sangat lembut ternyata bisa membuat kita relax.

Time break ini tentu saja digunakan turis untuk foto foto, tak terkecuali aku. Mau foto tiduran di pasir, foto melayang di atas bukit, foto bak turis dehidrasi atau foto gila lainnya, semuanya boleh boleh saja. Cukup banyak waktu untuk melakukannya. 

Tak lupa mengucapkan banyak banyak syukur pada Allah, sudah diberi kesempatan "main-main" di gurun pasirNya, menikmati pemandangan yang luar biasa. Pingin bawa pulang pasirnya, hehehehehe. Karena pasirnya benar benar lembut jauh lebih lembut daripada pasir pantai, dan warnanya jingga. Indah sekali. 




Tak lama kemudian, konvoi bergerak lagi. Seperti ronde pertama tadi, mobil kembali bermanuver, mengajak kami merasakan kemiringan, menukik  turun, lalu melompat dan terbang melompati bukit. Luar biasa asyik !

Jerit ketakutan dan suara tertawa bercampur menjadi satu. Sang Sopir tampak puas mengerjai para penumpangnya, aku melihatnya tersenyum cekikikan. 

Setelah bermanuver panjang, konvoi desert safari berhenti lagi. Kali ini kami berhenti menghadap matahari yang hendak tenggelam. Subhanallaaaah indahnya.... menikmati detik demi detik bulatan api itu menghilang di antara bebukitan pasir.








Konvoi mobil mobil besar itu melanjutkan perjalanan lagi. Aku sungguh menikmati suasana gurun saat matahari menjelang tenggelam itu. Langit yang menguning tampak begitu serasi dengan warna pasir jingga. Lukisan Allah yang luar biasa indah. 

Jangan mengira perjalanan desert safari telah usai seiring menghilangnya matahari. Ternyata kami masih melakukan setengah perjalanan. 



Konvoi mobil melajut terus, kali ini melintasi gurun pasir yang relatif rata. Dengan kecepatan tinggi kami membelah gurun, meninggalkan matahari jauh di belakang, dari kejauhan tampak pemberhentian terakhir kami. Aku sudah tak sabar lagi untuk turun.


(bersambung)

Monday, September 15, 2014

Berrak


Saat itu aku sedang di lantai 5 sebuah hotel di Cappadocia, Turki. Pagi pagi sekali bersiap siap cek out dari hotel. Semua sudah siap, gak ada yang harus dikerjakan lagi selain menunggu jam buka restoran hotel untuk makan pagi. Di saat saat pengangguran itu, aku jadi teringat satu botol minuman yang teramat istimewa. Mau dibawa pulang ke Indonesia, ngapain juga...bikin koper makin berat aja. Jadi sebelum meninggalkannya di Turki, aku ambil saja foto botol minumannya.

Hehehehe, ketawa dulu aaah....

ada yang tahu kenapa botol minuman itu sangat istimewa?




Hehehhee.... botol itu istimewa karena namanya BERRAK !
Aku langsung tertawa ketika pertama kali menerima botol minuman itu. Siapa yang tak tertawa, masa namanya BERRAK? Bayangin aja kalo ada yang nawarin, "Hey kamu mau gak minum berrak?" .... jorok banget kan? Hahahhahaa

Semoga saja produsen air minuman kemasan bermerk BERRAK itu tidak punya keinginan untuk ekspansi ke Indonesia ya.... kalaupun ada, semoga konsultan bisnis nya merekomendasikan nama yang lain, yang lebih bagus pastinya. Hehehehhehee....

Air minuman dalam kemasan bermerk lain juga sangat banyak di Turki. Dua diantaranya bermerk Gurpinar dan Hayat. Meskipun aku tak tahu arti kata ketiga merk itu, tapi dua merk yang terakhir terdengar lebih indah di telingaku. Setuju kan?


Friday, August 22, 2014

Satu Senja di Bosphorus



Postingan ini mungkin bisa dibilang sebagai postingan kadaluarsa karena berisi rekaman perjalanan hampir setahun yang lalu. Yaaah, mau gimana lagi, aku sok sibuk akhir akhir ini, dan sempat mempertanyakan tujuan ngeblogku, jadi memilih untuk libur dulu selama tiga bulan. Tapi sekarang keinginan ngeblog muncul lagi. Meskipun mungkin blog ini udah gak ada yang baca, hehehehe..... tapi thats fine. Aku cuma mau mengajak teman-teman blogger yang sudah mampir kesini untuk menikmati satu senja di Selat Bosphorus Turki, semoga berkenan.





Selat ini termasuk fenomenal, karena membelah satu negara --yaitu Turki-- menjadi dua benua. Satu bagian berada di Asia, dan satu bagian lagi berada di Eropa. Sebagian besar penduduk Istanbul setiap hari menyeberangi jembatan ini, baik menggunakan kapal feri maupun mobil dengan melewati jembatan, karena kebanyakan kantor kantor berada di wilayah eropa, dan rumah rumah tinggal kebanyakan berada di wilayah asia. Jadi ketika siang mereka berada di Eropa, malamnya pulang ke Asia. Hehhehehe.... hebat bener ya....

Aku yang juga tinggal di Asia, butuh puluhan tahun bisa menginjakkan kaki di bagian eropa itu, sementara orang orang Istanbul dengan mudahnya bermigrasi setiap hari dari Asia ke Eropa.


Selat Bosphorus ini ramai sekali, tepat berada di pusat kota. Kebetulan kami menikmati satu senja di Bophorus  saat saturday night alias malam minggu. Kelihatannya masyarakat Istambul pada keluar rumah semua, untuk menikmati waktu bersama keluarga di luar rumah. Banyak sekali taman-taman kota dipenuhi keluarga keluarga besar yang piknik bersama. Begitu juga di sekitar Bosphorus. Mereka yang berduit memenuhi cafe-cafe di sepanjang tepi Bosphorus, sementara yang lebih sederhana bisa membawa bekal sendiri lalu berpiknik ria. Seperti keluarga di bawah ini, mereka bahkan membawa serta bayi mereka yang masih sangat mungil. Duduk melingkar di tepi Bosphorus, membeli makanan di kaki lima, berkumpul hingga senja usai. Menyenangkan sekali tampaknya.




Aku dan Ibu berhasil menaiki kapal wisata yang akan membawa kami menikmati Bosphorus tepat waktu, sekitar satu jam sebelum matahari terbenam. Langit masih biru  terang, udara juga masih cukup sejuk. Kami memilih duduk di bagian kapal paling atas, agar bisa menikmati pemandangan tiada batas, sambil tak berhenti mengucap Alhamdulillaaah...

Bosphorus ini sangat lebar, lalu lintas kapal kapal besar juga sukup ramai. Ada kapal pesiar, ada feri, ada bosphorus cruise yang berukuran sedang, ada kapal kapal lebih kecil penjual makanan berbahan dasar ikan, aku juga melihat kapal perang besar melintas di sini.



Beginilah  penampakan bagian paling atas dari Bosphorus Cruise yang kami tumpangi. Ketiga sisi, kanan kiri dan belakang dipenuhi tempat duduk, sementara di bagian tengah ada meja bulat yang menempel pada lantainya. Di depan ada semacam mini bar, dimana penumpang bisa menikmati minuman dan makanan kecil. 

Di lantai bawah, kondisinya lebih tertutup. Dikelilingi jendela jendela kaca yang bisa dibuka dan ditutup. Ruangan dipenuhi meja bundar besar dan ada kursi kursi, mirip restoran.



Kapal kami pun berjalan, dan guide kapal mulai menjelaskan hal hal menarik di kanan kiri kapal yang bisa kami nikmati, tentu saja dalam bahasa inggris. Namun suasana romantis dan keindahan pemandangan lebih menarik daripada memperhatikan penjelasan dari Guide. Aku menikmati air selat , langit, dingginnya udara dan kepakan burung burung yang terbang di atas kami. Aku menikmati bangunan bangunan di sepanjang dataran yang kami lewati. Aku menikmati keindahan Bosphorus. Juga saat kami melewati jembatan yang mengingatkanku pada Jembatan Suramadu, hehehheee...... 






can you see the moon ???
Senja mulai datang, bulan juga sudah muncul. langit jadi semakin indah.
dan aku ??

mulai menggigil.




This is my favorite
 Lampu lampu mulai menyala, langit juga mulai gelap. Lagi lagi aku merasa beruntung bisa menikmati Bosphorus dalam keadaan terang dan gelap, sore dan malam. Tapi lama kelamaan, aku merasa kehilangan keberuntungan, lalu dihantui perasaan menyesal. Kenapa tadi memilih duduk di lokasi paling atas??  akibatnya jadi benar benar menggigil kedinginan. Turis yang lain sudah memenuhi dek bawah, area yang lebih tertutup pastinya, aman dari angin dan udara yang benar benar dingin. Hiks....

Aku bertanya pada kru kapal kapan perjalanan kita akan berakhir, mereka bilang sebentar lagi kita akan berlabuh. Jadi yang aku lakukan hanya bersabar, dan berpelukan dengan Ibuku agar lebih hangat. Aku pikir, ini sangat romantis. Berdua dengan Ibu menikmati warna warni lampu kota istambul. Subhanallooh....


Dolmabahce Palace


(bukan) Blue Mosque


Semoga teman-teman blogger bisa menikmati juga satu senja di Bosphorus meskipun kali ini cuma dengan foto foto ya...