Sunday, October 9, 2022

Tak Dilupakan

Bu Ida sejak dulu dan akan selalu menjadi dosen kesayanganku. Ketika masih menjadi mahasiswanya, Beliau beberapa kali melibatkanku dalam beberapa kegiatan bersamanya. Karena kami waktu itu sangat akrab, rasamya lebih kayak sahabat daripada kayak dosen. 

Setelah lulus kuliah, kami makin  jarang bertemu. Apalagi setelah aku punya kesibukan yang sama sekali gak ada hubungannya sama kuliahku dulu. Lama lama... lost contact. Baru kemudian, ketika trend zoom sedang mewabah gara gara serangan covid, aku berhasil menghubungi beliau lagi gara gara bertemu di suatu zoom meeting. Alhamdulillah bisa tukeran nomor lagi, bisa ngobrol lagi via whatsapp.

Beberapa hari yang lalu, Bu Ida mengirimiku udangan pernikahan anak pertamanya. Pingin hadir, tapi gak pingin juga. Ngerti kan rasanya? 

Pingin hadir karena kangen banget sama Beliau. Gak pingin hadir karena... insecure takut ketemu orang orang dari masa lalu yang sudah pada sukses. Aku mikirnya, apa yaa yang bisa aku banggakan kalo aku ketemu mereka, kok kayaknya gak ada. Pertanyaan pertanyaan mematikan macam "Kerja dimana sekarang?" , "Kok gendutan  ?" atau "Anaknya berapa?" , meskipun sudah terlalu sering menghadapi pertanyaan pertanyaan itu, tapi entah kenapa still it hurt so bad. 



Akhirnya. aku memutuskan untuk hadir demi Bu Ida. Bismillah, niatku pingin silaturahim sama Bu Ida aja, sambil berdoa semoga gak ketemu orang orang yang gak penting, ehhehehee. 

Acara dijadwalkan dimulai pukul 10.00 pagi. Aku sudah tiba di lokasi 09.30. Aku sudah menyusun rencana, pokoknya aku harus ketemu dan salaman sama Bu Ida, trus langsung pulang. Tapi ternyata... situasinya lumayan pelik, Bu Ida tak muncul muncul juga. Karena aku gak tau dimana Bu Ida bersembunyi, mau tak mau aku menunggu kemunculan Beliau sambil duduk di pojokan. Mengamati banyak orang yang bersiap siap di posisi masing masing. Tak ada satupun yang ku kenal, semoga ini pertanda baik ya. Artinya, I'm invisible. 

10.15 acara dimulai. Bu Ida dan keluarganya sudah muncul di panggung, mereka melakukan sesi foto keluarga. Sekitar 30 menit setelahnya, MC mempersilakan para undangan boleh mulai berbaris rapi untuk menyampaikan selamat pada kedua mempelai beserta orang tuanya di panggung pelaminan. Aku buru buru menyusup ke dalam barisan awal. Tentu saja, barisan undangan ini berjalan padat merayap. 

Aku baru sadar, ketika ada seorang di sebelah kanan , berpakaian adat jawa lengkap dengan blankonnya, berdiri siap siaga di samping barisan para tamu, menyambut setiap tamu, menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai penerima tamu. Aku mengenalinya. Pak A, dosen filsafatku dulu. Senang sekali melihatnya sehat dan segar, tak banyak berubah. Aku beranikan diri menyapa beliau. "Assalamualaikum Pak A" sapaku sambil senyum dengan menghaturkan sungkem. 

Pak A tampak kaget, tapi sedetik kemudian tampak senyum lebar di wajahnya dengan mata yang berbinar, "Elsa ya?"

Masyaalloh... seketika itu rasa gugup dan segala insecure sejak berangkat dari rumah tadi, langsung menguap hilang. Meskipun aku jarang ambil mata kuliah beliau, meskipun sudah 17 tahun yang lalu aku lulus, meskipun gak pernah ketemu sama sekali setelahnya, ternyata Pak A masih mengingatku. Aku langsung terharu, air mata ini udah mau berubah jadi air bah. (kenapa ya, semakin tua semakin mudah terharu? #seriusnanya) 

Tentu saja aku bilang ke Pak A, terima kasih banget masih mengingatku, benar benar sangat berarti buatku. Lega sekali saat tahu Pak A juga terlihat sungguh senang bisa melihatku lagi. Aku gak yakin apa yang ada di pikiran Pak A, yang sudah pasti sih bukan bangga, karena aku bukan termasuk mahasiswanya yang cemerlang, tapi sekedar diingat aja sudah membuatku sangat sangat berarti. 

Lanjut, akhirnya giliranku sampai juga ke panggung pelaminan. Dan bertemu Bu Ida. Seperti Pak A, ketika melihatku, Bu Ida langsung teriak "Elsaaaaa" sambil menarikku ke pelukannya. Nyaman sekali bisa berpelukan sama Bu Ida lagi, yang membuatku tak nyaman hanyalah karena harus menahan air bah mengalir semakin deras. Alhamdulillah Bu Ida kelihatan sungguh gembira aku bisa datang, Beliau bahkan dengan antusias menunjukkan ke suami di sampingnya, "Pak, ini Elsa Pak! ini Elsa " . Jadi pingin ketawa, campur pingin nangis.  Yang jelas kami sangat senang bisa ketemu lagi. 

Turun dari panggung, ketika mencari jalan pulang, aku bertemu satu lagi dosenku dulu. Pak B, dulu aku suka kuliah Beliau yang menjelaskan tentang asal usul perubahan bahasa yang ada kaitannya dengan perbandingan teologi. Kini Pak B menjelma menjadi youtuber dengan viewer yang cukup tinggi. Meskipun saat itu Pak B memakai masker, tetap saja aku bisa mengenali wajahnya yang tak bertambah tua sejak dulu.  Beliau sedang berjalan di samping anak istrinya. Karena moodku sedang sangat sangat baik, dengan pedenya aku menyapa beliau. "Assalamuaikum Pak B" , tak berharap beliau masih mengingatku. Aku cuma ingin menyapa, thats it. 

Pak B berhenti sejenak. Melihatku beberapa detik, lalu ... "Elsa ya? kok sendirian, mana gengmu?" 

😂😂😂😂 Ya Allah Pak, sudah gak kuliah lagi hampir 20 tahun, masih aja inget kalo aku kemana mana selalu sama geng ku. ohh God ,bener bener bikin ketawa bahagia.  

Aku pun pulang, masuk mobil. Udah nyalain mobil, mau keluar... eh lewat di depanku, Bu C, dosen yang super baik. Langsung aku turun dari mobil, dan kusapa beliau dengan histeris di parkiran. "Buu C !!!" kupanggil namanya dengan pedenya gak peduli Beliau ingat aku atau tidak.  

Bu C kaget, tapi responnya luar biasa. "Elsaaaaaa !!" teriaknya juga

Persis film film india jaman dulu, dua sejoli dari arah berlawanan, berlari mendekat satu sama lain hingga berpelukan di satu titik. Yup, itulah yang terjadi. Kami berpelukan, kami tertawa tawa, kami ngobrol sebentar. Temu kangen yang singkat, tapi membahagiakan. 



Alhamdulillah, tugas hadir di undangan pernikahan sudah ditunaikan. Aku pulang dengan senyum senyum sepanjang perjalanan. Ingat jaman kuliah dulu, inget kekonyolan masa itu, inget teman teman dan dosen dosen yang menyenangkan... 

Tapi yang paling membuatku senang adalah beliau beliau ini masih mengingatku. Aku bukan mahasiswa yang paling pintar, aku juga bukan mahasiswa yang paling bandel kayaknya, cuma mahasiswa rata rata yang serba nanggung. Tapi mahasiswa serba nanggung ini sangat bersyukur hari ini serasa diberi sebuah penghargaan kategori  "Tak Dilupakan" . 



PS: jadi mikir, pingin ngirimin mereka bingkisan terima kasih atas penghargaannya hari ini.