Kami punya seorang tukang kayu yang telah bekerja sejak aku masih sangat kecil. Aku memanggilnya Cak Yo. Dia punya tempatnya sendiri di gudang belakang. Eksklusif, di bawah pohon rindang, hanya dia dan kayu kayunya, dan segala peralatannya. Dulu sepulang sekolah, aku selalu main main di halaman belakang. Waktu itu masih sangat lapang, ada pepohonan, bisa naik sepeda sepuasnya, bisa manjat pohon, dan yang tak kalah menyenangkan adalah gangguin Cak Yo bekerja. Entah apa yang sedang dia kerjakan, yang penting aku gangguin aja. Belajar menggergaji, belajar memaku kayu pakai palu. Berkat Cak Yo pula, waktu kecil aku sudah bisa membuat dingklik, sebuah bangku kecil sederhana dari sisa sisa kayu garapan Cak Yo.
Aku mengakui, hasil karya Cak Yo tuh halus dan bagus. Salah satu hasil karyanya yang sampai sekarang selalu kubanggakan adalah lemari di kamar tidurku. 2006 setelah rumahku habis terbakar, kamarku luluh lantak tinggal abu, Aku meminta Cak Yo membuatkanku sebuah lemari kayu yang full memenuhi satu sisi dinding, dari lantai sampai atap kamar. Aku berdikusi sama Cak Yo, apa mauku. Aku gambar sebisaku, dan Cak Yo mewujudkannya. Sebuah lemari raksasa, yang harus pakai tangga dulu untuk mencapai rak bagian atasnya. Salah satu pintunya merupakan kamuflase, karena kalo dibuka, ternyata menuju kamar mandi. Sebuah lemari yang kata orang betawi "Gue banget" .
Cak Yo kadang juga menerima kerjaan sendiri, di luar kerjaan dari kami. Dan kami tidak keberatan, jadi kadang dia ijin sebulan gak masuk kerja . Pernah juga ijin beberapa bulan karena terima kerjaan di jakarta. Meski begitu, Cak Yo selalu balik lagi ke kami.
Sampai aku besar, aku masih sering gangguin Cak Yo. Dia gak pernah marah karena tau aku cuma iseng aja. Semakin lama, makin tua... tingkat keisenganku menurun. Udah jarang aku gangguin Cak Yo lagi, karena aku juga usah sibuk di tempat lain. Kalo ketemu, Cak Yo selalu menyapaku, "Sa.." gitu aja. Kadang aku cuma senyum, tapi seringnya aku ledekin dia. Dan dia selalu menjawab dengan pembelaannya sendiri. Kami selalu berlawanan, tapi itulah cara kami berkomunikasi. Biar rame aja.
Sampai aku besar, aku masih sering gangguin Cak Yo. Dia gak pernah marah karena tau aku cuma iseng aja. Semakin lama, makin tua... tingkat keisenganku menurun. Udah jarang aku gangguin Cak Yo lagi, karena aku juga usah sibuk di tempat lain. Kalo ketemu, Cak Yo selalu menyapaku, "Sa.." gitu aja. Kadang aku cuma senyum, tapi seringnya aku ledekin dia. Dan dia selalu menjawab dengan pembelaannya sendiri. Kami selalu berlawanan, tapi itulah cara kami berkomunikasi. Biar rame aja.
Salah satu obrolanku dengan Cak Yo yang sudah lama sekali tapi sampai sekarang masih kuingat adalah ketika kami sama sama berdiri di depan toko, bersama yang lain juga , melepaskan adikku dan anak-anaknya kembali ke kota tempat tinggalnya. Cak Yo bertanya pelan "Kamu gak pingin punya anak kayak gitu?"
Males banget kalo diajak ngobrol masalah kayak gini, nanti ujung ujungnya aku dibandingkan sama adikku yang punya anak bertubi tubi, sementara kakaknya ini boro boro punya anak, menikah aja belum. Waktu itu aku menjawabnya "Ah gak enak punya anak, bikin repot aja".
Cak Yo senyum , sambil bilang "Kamu salah. Punya anak itu .... " Dia diam sebentar. Aku melihatnya, baru kemudian dia melanjutkan, "Bangga. Punya anak itu bangga. Meskipun anaknya gak melakukan apa apa. kita cuma lihat aja, bangganya itu... wes pokoke, rasakan sendiri nanti kalo kamu punya anak".
Males banget kalo diajak ngobrol masalah kayak gini, nanti ujung ujungnya aku dibandingkan sama adikku yang punya anak bertubi tubi, sementara kakaknya ini boro boro punya anak, menikah aja belum. Waktu itu aku menjawabnya "Ah gak enak punya anak, bikin repot aja".
Cak Yo senyum , sambil bilang "Kamu salah. Punya anak itu .... " Dia diam sebentar. Aku melihatnya, baru kemudian dia melanjutkan, "Bangga. Punya anak itu bangga. Meskipun anaknya gak melakukan apa apa. kita cuma lihat aja, bangganya itu... wes pokoke, rasakan sendiri nanti kalo kamu punya anak".
Waktu itu Aku tidak mendebatnya. Entah kenapa, mungkin karena kami sibuk dadah-dadah hingga mobil yang membawa adikku pergi tak terlihat lagi.
***
Suatu hari... kami menyadari, Cak Yo sudah gak masuk kerja 2 minggu tanpa kabar. Gak biasanya. Kami telpon, nomornya gak aktif. Setelah dicek ke rumahnya, baru kami tau kalo Cak Yo sakit dan dirawat di rumah sakit di Kediri. Kami menjenguk kesana. Baru kali itu, aku menyadari, Cak Yo ternyata sudah tua, rambutnya putih semua, terlihat lemah, bahkan gak kuat lagi mengangkat palu. Dia masih mengenali ibuku. Meskipun dalam kondisi sakit, dia sempat minta maaf karena gak bisa masuk kerja, padahal masih ada sesuatu yang belum tuntas dikerjakan.
Aku pegang tangannya, "Cak Yo, ayo cepet sembuh, nanti kita bertengkar lagi... "
Sedihnya aku saat Cak Yo menjawab, "Siapa ini?"
Dia sudah tak mengenaliku. Padahal dulu akulah yang mengganggunya tiap hari.
Sedihnya aku saat Cak Yo menjawab, "Siapa ini?"
Dia sudah tak mengenaliku. Padahal dulu akulah yang mengganggunya tiap hari.
Cak Yo sempat pulang ke rumahnya, namun meninggal tak lama kemudian.
Kira kira seminggu kemudian, aku bertemu Cak Yo. Dia datang ke tokoku, seperti biasa sambil membawa perlengkapannya, palu paku dan teman temannya. Tapi kali ini, Cak Yo terlihat glowing ganteng sekali, raut wajahnya tenang positive vibes banget, bajunya putih, rambutnya rapi dan bersih, seperti tampak baru selesai mandi. Ajaibnya, aku melihat ada semacam lampu sorot di atasnya, yang mengikuti pergerakannya, mirip lampu sorot di panggung broadway, yang selalu menyoroti satu pemain utama. Aku begitu gembira melihatnya datang, kesempatan untuk langsung nyerocos panjang, komplain kenapa rak rak di tokoku belum dibenerin juga, kenapa etalase yang rusak, lalu engsel yang mau copot, trus permintaan ganti kunci laciku karena kuncinya aku hilangkan, tak juga diselesaikannya. Tapi Cak Yo cuma senyum lihat aku nyerocos, sambil berlalu gitu aja, cuma menyapaku "Sa.." dan terus jalan dengan santai masuk ke belakang toko. Aku melihatnya keheranan, gak biasanya Cak Yo cuma diam saja tanpa pembelaan, tanpa pertengkaran lucu diantara kami. Dan aku terbangun dari tidur, masih dengan rasa penuh heran. Kok bisa Cak Yo datang ke mimpiku, Kok bisa Cak Yo seglowing itu... kok bisa ada lampu sorot broadway yang meneranginya kemanapun dia melangkah. Apa amalan Cak Yo selama ini ?
Btw, aku sedang berusaha mengkhatamkan buku tebal ini. Ternyata bagus banget. Ada yang sudah baca ?
