Di toko tuh ada 6 pegawai yang bisa dibilang sudah pintar semua lah. udah bisa "jalan" sendiri, aku tinggal ngawasin aja gitu. Karena keenakan, aku jadi santai. Kadang malah aku yang tanya ke mereka tentang ini itu di toko, karena mereka lebih tahu seluk beluknya daripada aku, selaku ownernya.
Nah, kemudian datanglah proyek MBG. Salah satu pegawaiku in kepincut MBG, yang notabene menawarkan gaji lebih besar, masa kerja lebih singkat, bonus lebih menggiurkan. Sialnya, yang satu itu mengajak teman temannya, dan mereka semua resign berjamaah.
Gak usah diceritain lah gimana kelabakannya aku, ditinggalkan semua pegawai begitu aja. Jelas bingung, but show must go on kan? Nyari pegawai baru juga gak semudah itu. Selama masa yang tidak mudah itu, aku dapat pinjaman 1 orang pegawai dari toko orang tua. Alhamdulillah kan, disyukuri aja , daripada gak ada pegawai sama sekali.
Nah, sebagai anak baru , dia pasti gak ngerti apa apa. Bisa dimaklumi. Tapi dari minggu awal bekerja di sini, aku bisa tahu kalo nih anak baru memang di bawah rata rata. Sampai sampai aku lah yang harus belajar menyesuaikan diri, gimana memberi instruksi yang tepat dan singkat agar bisa ditangkap dan dimengerti olehnya.
Sekarang, sudah masuk bulan ke 5 dia bekerja bersamaku. Jangan ditanya gimana kepalaku selama 5 bulan terakhir, rasanya kepala gak cuman pecah aja, gak cuman berkeping-keping, tapi udah lembut jadi bubuk halus karena terlalu sering pecah. Kayaknya tiap hari , aku dibikin istighfar sama kelakuan si anak baru.
Pada akhirnya aku mikir banget, apa memang gini caranya Allah bikin aku istighfar terus, dipaksa oleh keadaan untuk belajar menahan amarah, belajar mengendalikan emosi, belajar nge-rem, dan yang terpenting belajar sabar.
Astaghfirullah...