![]() |
| Pesta durian di rumah Mbak Niken... Maaf ya Mbak, kami sangat merepotkan.... |
(Kisah Sebelumnya)
Kami tiba dengan selamat di kota Pacitan menjelang tengah malam. Entah jam berapa... yang pasti acara silaturahimnya tetap berlanjut. Disini kami berniat menemui sepasang suami istri, Mas Agus dan Mbak Niken, sahabat baiknya Dewi.
Berhenti di Alun-alun kota, sempat mampir sebentar di Masjid Agung Pacitan yang sedang direnovasi, kami menghubungi Sahabat tadi. Ternyata rumah mereka sangat dekat dengan Alun-alun. Sesegera mungkin kami meluncur kesana.
Kali ini, bisa dibilang kami adalah tamu yang baik. hehehehee.... meskipun agak tak tahu diri karena bertamu menjelang tengah malam, tapi kami membawakan oleh oleh buat Sang Tuan Rumah. DURIAN!!! sip kan?
Mengobrol di teras, melepas kangen sambil pesta durian larut malam.... Subhanallah, maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau dustakan??
Sebentar kemudian, Dewi mengeluh kelaparan. Maklumlah.... Ibu Hamil memang suka kelaparan mendadak. Maka sebelum Bumil mungil ini pingsan, kami pun mencari bakso, soto, mie goreng atau apalah yang layak dimakan. Kembali ke Alun-alun... tapi tampaknya, banyak kedai yang sudah tutup.
![]() |
| Yoppy (hijau) memperhatikan proses pembakaran tahu. Kayaknya pingin jualan tahu bakar di suabaya tuh |
Kami berjalan menyusuri Alun-alun kota.... dan Dewi tampaknya terkesima dengan tenda-tenda yang menawarkan tahu dan jadah bakar. Karena unik, dan belom pernah tahu sebelumnya, maka kami ikut bergabung dengan para pengunjung yang lain di situ. Duduk melingkar lesehan di tikar. Sepiring tahu bakar, sepiring jadah bakar, dan beberapa teh hangat menemani kami meneruskan obrolan tentang banyak hal. Terutama soal rute ke pantai pantai elok yang dimiliki Kabupaten Pacitan.
hhhm.... Kalo Tahu semua rakyat Indonesia pasti sudah tahu banget. Tapi kalo JADAH? banyak yang belom tahu kan?? ketika itu, aku juga bertanya-tanya.. apa sih jadah...kenapa makannya harus dibakar??
Ternyata JADAH sama dengan TETEL. yaitu ketan putih yang dimasak dengan cara dikukus, lalu dicampur dengan parutan kelapa dan garam, setelah itu ditumbuk sampai hampir halus. Setelah itu ditata rata di loyang dan di-angin anginkan agar membentuk dan bisa diiris sesuai selera. Makannya tidak harus dibakar seperti yang kami temui di Pacitan.
Aku pikir, pasti Jadah alias Tetel ini ada di banyak tempat, namun namanya saja yang berbeda. Di jakarta juga ada kok... aku pernah menjumpai penjual jadah alias tetel ini di kawasan tanah abang dan pasar mayestik.
![]() |
| photo by Dewi |
Tahu bakar dicocol ke sambal kecap (kenapa gak sambal petis ya?)
sementara Jadah Bakar dicocol ke gula pasir.
Unik sekali kan??
Tak terasa, akhirnya kami ber-enam menghabiskan 2 piring penuh tahu bakar, dan 2 piring penuh jadah bakar. Jangan heran yaa jika beratku naik beberapa kilo. Hahahaha.....
![]() |
| from left: Dewi, Yoppy (hijau army), Mas Agus (hijau terang), Mbak Niken (Orange), Ari |
Sudah tengah malam... dan kami mulai mengantuk. Mas Agus dan Mbak Niken memilihkan kami tempat untuk menginap malam itu. Di Alloro Guest House, sebuah rumah berarsitektur modern 2 lantai dengan kurang dari 10 kamar, yang dikelola oleh sebuah sekolah kejuruan, dan dijadikan hotel. Simple sekali, terasa homy, dan memang layak untuk direkomendasikan. Harga kamar standar hanya Rp. 175.000 semalam, sudah termasuk breakfast. Kamarnya cukup bagus... dan berhasil membuat kami tidur dengan nyenyaknyaaa...
Esoknya, Pukul 4 pagi kami sudah bangun dan berdiskusi. Stay di Pacitan dan menikmati Sunrise di pantai-pantai indahnya, atau segera berkemas dan melanjutkan perjalanan silaturahim???
Tunggu postingan selanjutnya yaaa....
PS: A Big Thank to Mas Agus dan Mbak Niken yang sudah bersedia menerima kami, tamu tak tahu diri, menjelang tengah malam....







































