Wednesday, August 19, 2026
Once We Were Us
Monday, August 3, 2026
Tukang Kayu
Sampai aku besar, aku masih sering gangguin Cak Yo. Dia gak pernah marah karena tau aku cuma iseng aja. Semakin lama, makin tua... tingkat keisenganku menurun. Udah jarang aku gangguin Cak Yo lagi, karena aku juga usah sibuk di tempat lain. Kalo ketemu, Cak Yo selalu menyapaku, "Sa.." gitu aja. Kadang aku cuma senyum, tapi seringnya aku ledekin dia. Dan dia selalu menjawab dengan pembelaannya sendiri. Kami selalu berlawanan, tapi itulah cara kami berkomunikasi. Biar rame aja.
Males banget kalo diajak ngobrol masalah kayak gini, nanti ujung ujungnya aku dibandingkan sama adikku yang punya anak bertubi tubi, sementara kakaknya ini boro boro punya anak, menikah aja belum. Waktu itu aku menjawabnya "Ah gak enak punya anak, bikin repot aja".
Cak Yo senyum , sambil bilang "Kamu salah. Punya anak itu .... " Dia diam sebentar. Aku melihatnya, baru kemudian dia melanjutkan, "Bangga. Punya anak itu bangga. Meskipun anaknya gak melakukan apa apa. kita cuma lihat aja, bangganya itu... wes pokoke, rasakan sendiri nanti kalo kamu punya anak".
Sedihnya aku saat Cak Yo menjawab, "Siapa ini?"
Dia sudah tak mengenaliku. Padahal dulu akulah yang mengganggunya tiap hari.
ngomongin soal mimpi , kayaknya nyambung banget sama yang ini. aku sedang berusaha mengkhatamkan buku tebal ini. Ternyata bagus banget. Ada yang sudah baca ?
Tuesday, June 2, 2026
Kualat
DULU
Ingat sekali, aku pernah membully nenekku, karena beliau tergila gila akan Tersanjung dan Cinta Fitri. Sebagai penggemar sinetron garis keras, Nenekku akan kebingungan jika melewatkan 1 episode, serasa dunia ini hampa jika belum mengetahui perkembangan nasib Si Fitri dan teman temannya itu. Nenekku bahkan turut menangis saat Si Fitri tersakiti, juga ikut serta mengutuki para antagonis.
KINI
Aku malu mengakui, aku sama gilanya dengan nenekku dulu.
Sejak ditinggal anak mondok ke pesantren, rasanya kayak kena post-powersyndrome. Yang biasanya tiap hari ngurusin anak, trus tiba tiba anaknya gak ada, jadi bingung mau ngurusin apa. Alhamdulillah masih tetap bekerja ya, tapi kebiasaan kebiasaan --seperti antar jemput anak sekolah, lalu nyiapin makan dan lain sebagainya, hingga harus ngomel tiap hari untuk mengingatkan belajar ini itu-- yang kemudian hilang, sehingga terasa punya lebih banyak waktu menganggur, berbuah kebingungan yang bikin gak tau harus ngapain.
Dari waktu-waktu menganggur itulah, aku nyoba nyoba nonton drama korea. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, aku pun terhanyut sampai ke Korea. 16 episode, biasanya habis dalam waktu 2-3 hari. Gila kan ?
Lalu setahun belakangan ini, dari korea, hanyut lagi sampai ke China. Lebih gila lagi, 30-40 episode drama china bisa dikhatamkan dalam tempo 3-4 hari saja.
Pesan moralnya adalah, Kualat itu nyata !
pingin minta maaf ke almarhumah nenekku, karena aku sudah membullynya dulu.
Btw, ada yang udah nonton We Are All Trying Here ? nih drama baguuuuuuuuus banget ya ?
salah satu favoritku sih ini.
Monday, April 6, 2026
istighfar
Di toko tuh ada 6 pegawai yang bisa dibilang sudah pintar semua lah. udah bisa "jalan" sendiri, aku tinggal ngawasin aja gitu. Karena keenakan, aku jadi santai. Kadang malah aku yang tanya ke mereka tentang ini itu di toko, karena mereka lebih tahu seluk beluknya daripada aku, selaku ownernya.
Nah, kemudian datanglah proyek MBG. Salah satu pegawaiku in kepincut MBG, yang notabene menawarkan gaji lebih besar, masa kerja lebih singkat, bonus lebih menggiurkan. Sialnya, yang satu itu mengajak teman temannya, dan mereka semua resign berjamaah.
Gak usah diceritain lah gimana kelabakannya aku, ditinggalkan semua pegawai begitu aja. Jelas bingung, but show must go on kan? Nyari pegawai baru juga gak semudah itu. Selama masa yang tidak mudah itu, aku dapat pinjaman 1 orang pegawai dari toko orang tua. Alhamdulillah kan, disyukuri aja , daripada gak ada pegawai sama sekali.
Nah, sebagai anak baru , dia pasti gak ngerti apa apa. Bisa dimaklumi. Tapi dari minggu awal bekerja di sini, aku bisa tahu kalo nih anak baru memang di bawah rata rata. Sampai sampai aku lah yang harus belajar menyesuaikan diri, gimana memberi instruksi yang tepat dan singkat agar bisa ditangkap dan dimengerti olehnya.
Sekarang, sudah masuk bulan ke 5 dia bekerja bersamaku. Jangan ditanya gimana kepalaku selama 5 bulan terakhir, rasanya kepala gak cuman pecah aja, gak cuman berkeping-keping, tapi udah lembut jadi bubuk halus karena terlalu sering pecah. Kayaknya tiap hari , aku dibikin istighfar sama kelakuan si anak baru.
Pada akhirnya aku mikir banget, apa memang gini caranya Allah bikin aku istighfar terus, dipaksa oleh keadaan untuk belajar menahan amarah, belajar mengendalikan emosi, belajar nge-rem, dan yang terpenting belajar sabar.
Astaghfirullah...
Friday, February 20, 2026
Di Gado Gado Arjuna
Lagi duduk berdua di Gado Gado Arjuna Pak Satumin yang lumayan legendaris di Surabaya, sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol ngalor-ngidul. Moment yang jarang banget terjadi, karena sudah lama sekali kami tak bertemu, dan mungkin sudah hampir 20 tahun kami tak pernah punya kesempatan menghabiskan waktu bersama.
Dari segala kerandoman obrolan, sampailah pada satu topik yang lucu tapi ironis.
"Satria gimana kabarnya ?" Aku menanyakan kabar anak sulungnya, Satria namanya. Aku ingat betul ketika temanku ini begitu bangganya mengabarkan anak pertamanya telah lahir, laki laki pula. Dulu pernah sekali ketemu Satria waktu dia masih batita.
Kini kulihat matanya berbinar saat aku mengajaknya ngobrolin soal anak.
"Satria sudah lulus kuliah kedokteran dari Universitas Brawijaya, sekarang lagi koas dia" senyumnya merekah, alisnya naik, memuncakkan bangga. Ia melanjutkan bercerita tentang prestasi prestasi Satria lainnya, dan aku bisa menangkap kebanggaannya. Ikut senang, bayi kecil yang dulu itu ternyata sebentar lagi akan jadi dokter.
"Lalu anakmu ? Yang cantik itu ?" tanyanya setelah ia selesai bercerita.
"Anakku baik baik saja, kenapa emang ?"
"Khadija kan? Yaa gimana sekarang? Aku sering lihat fotonya di statusmu. Kelas berapa dia?"
"Baru kelas 1 SMA"
"Hmm... gimana kalo kita besanan?"
Huuaahahahahhaaa.... seketika itu kami tertawa bersama, sampai sakit perutku. Dia lalu mulai menghitung probabilitas, dari mulai selisih umur yang masih bisa dibilang ideal, membedah karakter dari zodiak masing masing pakai teori astrologi khas "Planet Remaja ANTV" , sampai persamaan latar belakang keluarga masing masing. Aku masih tak bisa berhenti tertawa. Sampai akhirnya aku memutuskan , "Nggak ah, aku gak mau punya besan kayak kamu" . Kayaknya gak enak aja punya besan yang kita tau banget segala aib masa mudanya.
Sambil menikmati gado gado dan teh tawar hangat, kami semakin larut dalam tawa. Tapi kali ini menertawakan diri sendiri yang ternyata sudah sampai di titik ini, titik menjadi orang tua yang berusaha menjodoh-jodohkan anaknya dengan anak temannya. Jadi inget gimana kesalnya saat masih muda ketika hampir menjadi korban perjodohan dari orang tua. Eeeh,... sekarang kita sendiri yang mau jadi otak pelaku perjodohan anak-anak.
Kita sudah tua.
Time flies...
Tuesday, November 25, 2025
Plus Club
__Welcome to the plus club__
Akhirnya, berkacamata juga. Gini amat yaa rasanya jadi tua.
Beberapa tahun belakangan, ngerasa menurun banget kemampuan mata. Mulai terasa waktu bantuin Dija pake eyeliner di matanya, kok gak enak banget. Sesimpel itu bikin garis lurus di mata, tapi kok ... rasanya aneh aja. Trus lanjut waktu baca koran, rasanya juga gak nyaman banget. Apalagi setiap kali hendak menjahit. Masukin benang ke jarum aja subhanalloh susahnya. Terakhir, waktu lihat hp, kok harus dibesarin font nya, kok harus dijauhin hp-nya
Ternyataaa... emang sudah tua.
Sudah waktunya pakai kacamata baca. Kelihatan banget udah berumur.
Tua.
Mungkin memang benar, jika ada yang bilang bahwa menjadi tua itu adalah saatnya kenikmatan hidup diambil satu persatu oleh Sang Pemberi Nikmat.
Sunday, July 21, 2024
Good Bye Mila
Asa sayang Mila.
Saturday, May 20, 2023
Jadi Baik
Aku sedang di Jakarta waktu itu, ketika siang siang Dija telpon dari pondok. Saatnya pencet tombol 'pause' untuk menghentikan sementara kerjaanku saat itu, demi mendengarkan Dija curhat segala hal yang mengganjal hatinya. Ia masih merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya, meskipun aku tahu ia sudah berusaha sangat keras, tetap saja rasanya sungguh sulit. Aku lalu memilih menjauh dari keramaian, agar lebih fokus dan jelas mendengarkan segala keluh kesahnya di telpon. Dija mengeluh soal teman-teman sekamarnya, mengeluh soal betapa sulitnya mengatur waktu, juga mengeluh gak bisa matematika 😅
Setelah lebih dari satu jam ngobrol ngalor ngidul di telpon, Dija berniat mengakhiri telponnya. tapi rupanya masih ada satu lagi pertanyaan yang harus dikeluarkan dari kepalanya.
"Buuk..."
"Ya?"
Ia lama terdiam. "Ibuk pingin aku jadi apa? ,,, kalo aku besar nanti?"
"hhmm...." sekarang gantian aku yang lama terdiam
"Ibuk pingin aku jadi apa?" Dija menegaskan kembali pertanyaannya.
Aku masih diam. Bingung. Tak kusangka...pertanyaan sesimple ini , membuatku kehabisan kata.
"Buuuk?" Dija memastikan aku masih tersambung.
"Hhmm.... jadi baik"
"Baik? gitu aja?" tanyanya heran. Mungkin dalam pikirannya, aku akan menjawab pingin dija jadi CEO, presiden, menteri atau dokter, pilot, astronot atau profesi bergengsi lainnya. mungkin jawabanku tidak membuatnya cukup puas. Tapi sejujurnya , aku benar benar gak tau harus menjawab apa selain jadi orang yang baik.
"Iya, ibuk pingin Dija jadi orang yang baik..... itu aja"
Dija diam. Aku pun diam, aku takut jawabanku salah. Kami lama terdiam. sungguh lama.
akhirnya...
"Ya udah. Buk, Doain aku jadi baik ya ....Terima kasih ya buuk, Assalamualkum" dan Dija menutup telponnya.
![]() |
| sudah besar |
Wednesday, December 28, 2022
Brongsong
Sepertinya semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya Pola asuh yang terbaik, makanan yang terbaik, menciptakan lingkungan yang terbaik, memberikan pendidikan yang terbaik... apapun yang terbaik menurut orang tua. Tentu saja terbaik di sini bisa jadi berbeda antara satu dengan yang lain, tergantung kemampuan orang tuanya, tergantung latar belakang dan lain sebagainya.
Sebagai orang tua yang tinggal di Indonesia, yang juga sering berkumpul dengan orang tua lainnya saat ada acara di sekolah anak... aku rasa sudah cukup pantas menyebut diriku sendiri berpengalaman menghadapi perbedaan pandangan orang tua lain tentang cara kita mendidik/ memperlakukan anak. Tau kan... rasanya dijulidin ibu ibu lain yang sok membanding-bandingkan anaknya dengan anak kita... atau membanding bandingkan cara dia mengasuh anak dengan cara kita? uuh, toxic banget kalo kita gak siap dengan orang orang macam itu.
Menjengkelkan memang, mendengarkan pendapat mereka yang nyinyir. Seperti yang terjadi 6 bulan lalu, saat kami para orang tua siswa kelas 6 SD yang dibingungkan soal sekolah lanjutan berikutnya. Pilih sekolah, menyiapkan berkas, apalagi soal peliknya perjuangan menghadapi sistem zonasi.
"Anakmu mendaftar kemana?"
"Jadi sekolah dimana setelah ini?"
Pertanyaan macam itu jadi topik paling hangat, disamping bahan ghibah lainnya. Alhamdulillah aku sih gak pake bingung zonasi karena sudah mantab masukin anak ke pondok pesantren. Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan bertahun tahun, dan survey sana sini yang gak sebentar. Belom lagi mempersiapkan mental anak (dan mental orang tuanya juga). Nah, ternyata keputusan ini bisa jadi bahan nyinyiran juga.
"Kok tega sih masukin anak ke pesantren? Ntar kalo di pesantren jadi korbannya Mas Bechi gimana?
"Ya ampuun.... jaman sekarang masih ke pesantren? mau jadi apa?"
"Trus nanti di pesantren gimana tuh bakatnya Dija? gak sayang apa sama les musiknya selama ini? gimana les baletnya .. kan udah grade 4 ?"
"kalo aku sih... gak akan rela melepaskan momen momen penting sama anakku. Aku sih mau mendampingi anakku terus... waktu sama anak cuma sebentar lho, tau tau udah gedhe. Apa gak nyesel gak ada di samping anak?"
"hey, gak salah tuh masuk pensantren? Waktu bersama anak tuh berharga lho, gak bisa terulang . Kok malah dibuang di pesantren?"
bla bla bla ...
dan masih banyak lagi....
Biasanya aku diem aja. Gak merasa perlu jawab apa apa. Terbaik versiku, belum tentu terbaik versimu. Lakum dinukum waliyadin lah...
tapi ada kalanya, gak tahan juga jawab nyinyiran itu.
"eh tau gak ... Kakek dan nenekku dulu adalah petani. aku dulu diajari cara brongsong buah, Kalo kita mau panen buah yang bagus, buahnya harus di brongsong (dibungkus), biar gak digigit serangga, gak kena panas atau hujan dan gangguan lain. Nah, aku masukin anak ke pesantren juga dalam rangka membrongsong anakku. nanti kalo sudah waktunya panen, insyaallah anakku jadi buah yang jauuuuhhh lebih bagus daripada buah buah yang gak dibrongsong"
( Aaaamiiin )
Sunday, November 20, 2022
Widyawati
Sunday, October 9, 2022
Tak Dilupakan
Bu Ida sejak dulu dan akan selalu menjadi dosen kesayanganku. Ketika masih menjadi mahasiswanya, Beliau beberapa kali melibatkanku dalam beberapa kegiatan bersamanya. Karena kami waktu itu sangat akrab, rasamya lebih kayak sahabat daripada kayak dosen.
Setelah lulus kuliah, kami makin jarang bertemu. Apalagi setelah aku punya kesibukan yang sama sekali gak ada hubungannya sama kuliahku dulu. Lama lama... lost contact. Baru kemudian, ketika trend zoom sedang mewabah gara gara serangan covid, aku berhasil menghubungi beliau lagi gara gara bertemu di suatu zoom meeting. Alhamdulillah bisa tukeran nomor lagi, bisa ngobrol lagi via whatsapp.
Beberapa hari yang lalu, Bu Ida mengirimiku udangan pernikahan anak pertamanya. Pingin hadir, tapi gak pingin juga. Ngerti kan rasanya?
Pingin hadir karena kangen banget sama Beliau. Gak pingin hadir karena... insecure takut ketemu orang orang dari masa lalu yang sudah pada sukses. Aku mikirnya, apa yaa yang bisa aku banggakan kalo aku ketemu mereka, kok kayaknya gak ada. Pertanyaan pertanyaan mematikan macam "Kerja dimana sekarang?" , "Kok gendutan ?" atau "Anaknya berapa?" , meskipun sudah terlalu sering menghadapi pertanyaan pertanyaan itu, tapi entah kenapa still it hurt so bad.
Akhirnya. aku memutuskan untuk hadir demi Bu Ida. Bismillah, niatku pingin silaturahim sama Bu Ida aja, sambil berdoa semoga gak ketemu orang orang yang gak penting, ehhehehee.
Acara dijadwalkan dimulai pukul 10.00 pagi. Aku sudah tiba di lokasi 09.30. Aku sudah menyusun rencana, pokoknya aku harus ketemu dan salaman sama Bu Ida, trus langsung pulang. Tapi ternyata... situasinya lumayan pelik, Bu Ida tak muncul muncul juga. Karena aku gak tau dimana Bu Ida bersembunyi, mau tak mau aku menunggu kemunculan Beliau sambil duduk di pojokan. Mengamati banyak orang yang bersiap siap di posisi masing masing. Tak ada satupun yang ku kenal, semoga ini pertanda baik ya. Artinya, I'm invisible.
10.15 acara dimulai. Bu Ida dan keluarganya sudah muncul di panggung, mereka melakukan sesi foto keluarga. Sekitar 30 menit setelahnya, MC mempersilakan para undangan boleh mulai berbaris rapi untuk menyampaikan selamat pada kedua mempelai beserta orang tuanya di panggung pelaminan. Aku buru buru menyusup ke dalam barisan awal. Tentu saja, barisan undangan ini berjalan padat merayap.
Aku baru sadar, ketika ada seorang di sebelah kanan , berpakaian adat jawa lengkap dengan blankonnya, berdiri siap siaga di samping barisan para tamu, menyambut setiap tamu, menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai penerima tamu. Aku mengenalinya. Pak A, dosen filsafatku dulu. Senang sekali melihatnya sehat dan segar, tak banyak berubah. Aku beranikan diri menyapa beliau. "Assalamualaikum Pak A" sapaku sambil senyum dengan menghaturkan sungkem.
Pak A tampak kaget, tapi sedetik kemudian tampak senyum lebar di wajahnya dengan mata yang berbinar, "Elsa ya?"
Masyaalloh... seketika itu rasa gugup dan segala insecure sejak berangkat dari rumah tadi, langsung menguap hilang. Meskipun aku jarang ambil mata kuliah beliau, meskipun sudah 17 tahun yang lalu aku lulus, meskipun gak pernah ketemu sama sekali setelahnya, ternyata Pak A masih mengingatku. Aku langsung terharu, air mata ini udah mau berubah jadi air bah. (kenapa ya, semakin tua semakin mudah terharu? #seriusnanya)
Tentu saja aku bilang ke Pak A, terima kasih banget masih mengingatku, benar benar sangat berarti buatku. Lega sekali saat tahu Pak A juga terlihat sungguh senang bisa melihatku lagi. Aku gak yakin apa yang ada di pikiran Pak A, yang sudah pasti sih bukan bangga, karena aku bukan termasuk mahasiswanya yang cemerlang, tapi sekedar diingat aja sudah membuatku sangat sangat berarti.
Lanjut, akhirnya giliranku sampai juga ke panggung pelaminan. Dan bertemu Bu Ida. Seperti Pak A, ketika melihatku, Bu Ida langsung teriak "Elsaaaaa" sambil menarikku ke pelukannya. Nyaman sekali bisa berpelukan sama Bu Ida lagi, yang membuatku tak nyaman hanyalah karena harus menahan air bah mengalir semakin deras. Alhamdulillah Bu Ida kelihatan sungguh gembira aku bisa datang, Beliau bahkan dengan antusias menunjukkan ke suami di sampingnya, "Pak, ini Elsa Pak! ini Elsa " . Jadi pingin ketawa, campur pingin nangis. Yang jelas kami sangat senang bisa ketemu lagi.
Turun dari panggung, ketika mencari jalan pulang, aku bertemu satu lagi dosenku dulu. Pak B, dulu aku suka kuliah Beliau yang menjelaskan tentang asal usul perubahan bahasa yang ada kaitannya dengan perbandingan teologi. Kini Pak B menjelma menjadi youtuber dengan viewer yang cukup tinggi. Meskipun saat itu Pak B memakai masker, tetap saja aku bisa mengenali wajahnya yang tak bertambah tua sejak dulu. Beliau sedang berjalan di samping anak istrinya. Karena moodku sedang sangat sangat baik, dengan pedenya aku menyapa beliau. "Assalamuaikum Pak B" , tak berharap beliau masih mengingatku. Aku cuma ingin menyapa, thats it.
Pak B berhenti sejenak. Melihatku beberapa detik, lalu ... "Elsa ya? kok sendirian, mana gengmu?"
😂😂😂😂 Ya Allah Pak, sudah gak kuliah lagi hampir 20 tahun, masih aja inget kalo aku kemana mana selalu sama geng ku. ohh God ,bener bener bikin ketawa bahagia.
Aku pun pulang, masuk mobil. Udah nyalain mobil, mau keluar... eh lewat di depanku, Bu C, dosen yang super baik. Langsung aku turun dari mobil, dan kusapa beliau dengan histeris di parkiran. "Buu C !!!" kupanggil namanya dengan pedenya gak peduli Beliau ingat aku atau tidak.
Bu C kaget, tapi responnya luar biasa. "Elsaaaaaa !!" teriaknya juga
Persis film film india jaman dulu, dua sejoli dari arah berlawanan, berlari mendekat satu sama lain hingga berpelukan di satu titik. Yup, itulah yang terjadi. Kami berpelukan, kami tertawa tawa, kami ngobrol sebentar. Temu kangen yang singkat, tapi membahagiakan.
Alhamdulillah, tugas hadir di undangan pernikahan sudah ditunaikan. Aku pulang dengan senyum senyum sepanjang perjalanan. Ingat jaman kuliah dulu, inget kekonyolan masa itu, inget teman teman dan dosen dosen yang menyenangkan...
Tapi yang paling membuatku senang adalah beliau beliau ini masih mengingatku. Aku bukan mahasiswa yang paling pintar, aku juga bukan mahasiswa yang paling bandel kayaknya, cuma mahasiswa rata rata yang serba nanggung. Tapi mahasiswa serba nanggung ini sangat bersyukur hari ini serasa diberi sebuah penghargaan kategori "Tak Dilupakan" .
PS: jadi mikir, pingin ngirimin mereka bingkisan terima kasih atas penghargaannya hari ini.
Thursday, September 29, 2022
Blonde
Thursday, February 17, 2022
Tidak Wangi
Semalam ketika aku ada di ruang atm sendirian, ada seorang perempuan masuk. Sebenernya sama sekali gak pingin lihat orangnya kayak apa, karena pintu ada di belakangku, dan di ruangan itu berjajar 6 mesin atm. Aku menghadap mesin yang paling kanan, pas sebelah dinding kaca. Ketika orang itu masuk, subhanalloh bau badannya langsung tercium .
Tak sedap.
Sungguh tak sedap.
Mau gak mau, aku pun penasaran melirik, kayak apa sih orangnya. Dia memilih mesin paling ujung, paling kiri. Jadi bisa lebih bersyukur, seandainya dia memilih mesin pas di sebelahku, pasti aku tak sanggup menahan bau badannya.
Seorang wanita muda. Pakai dress panjang, rambut sebahu. Berkacamata dan bermasker medis selapis. Ia membawa tas kecil, yang hanya cukup untuk dompet dan kunci mobilnya (mungkin). Mengeluarkan kartu debitnya, dan memencet mencet tombol di mesin , sepertinya ia sangat hafal benar nomor nomor yang diperlukan. Sungguh berbeda denganku, yang butuh waktu lama di mesin atm, karena selalu bawa daftar catatan nomor nomor rekening yang akan ditransfer, mohon maklum banyak tagihan. Selalu banyak pertanyaan seperti "Kenapa mobile banking aja?" setiap aku bercerita pengalaman di atm. Jawabannya adalah, aku belum kuat iman menggunakan mobile banking. Yang paling kutakutkan check-out ini itu malam malam saat gak bisa tidur kurang kerjaan. Bagiku, itu berbahaya sekali. (please dont laugh )
Balik lagi ke perempuan itu, yang patut disyukuri adalah dia tak lama di ruang atm. Sekedar mengambil uang tunai, lalu pergi. Setelahnya, alhamdulillah ruangan kecil itu berangsur angsur kembali normal aromanya, meskipun bau tak sedap itu masih terngiang ngiang di ingatan.
Sebenernya pingin juga menarik tangannya ketika dia hendak keluar, sekedar membisikkan "Maaf Mbak, kamu tuh bau sekali"
atau..
"Mbak, ayo ikut ... saya belikan deodorant ya?"
Tentu saja aku tidak melakukannya. meskipun pingin banget sebenernya. what should i do then ? Cuma bisa berbaik sangka, mungkin dia enam hari tak sempat mandi, karena terlalu repot mengurus sesuatu yang sangat gawat. Semoga ada saudara atau temannya yang bisa ngasih tau, bisa memberinya kesempatan mandi, dan istirahat mungkin ?
Pengalaman bertemu orang dengan bau badan tentu saja gak sekali dua kali ini. Untuk orang orang dekat atau orang orang yang aku kenal, biasanya aku bisa langsung menyampaikannya pelan pelan, sambil ngasi bantuan gimana caranya mengatasi bau badan. Tapi untuk orang orang yang cuma ketemu di jalan, cuma bisa mendoakan saja ada orang lain yang membantunya.
Beda lagi ceritanya kalo kita ketemu orang yang wanginya masyallah. Beberapa hari yang lalu, di lokasi yang sama, dan malam malam juga. Kondisinya sama, aku sendirian di ruang itu. Lalu ada perempuan yang masuk. Begitu ia masuk ruangan, wanginya sudah menyembur ke seluruh ruangan. Nyaman sekali ketika ingin menghirup nafas dalam dalam. Wanginya bikin otak ikut berbunga-bunga, bikin senyum senyum sendiri. Lagi lagi, jadi pingin noleh, lihat kayak apa sih orangnya. Ternyata sederhana sekali. Cuma celana panjang dan t-shirt, plus sandal jepit. Nothing special, tapi seneng aja berada di dekatnya meski sebentar. Rasanya seperti dapat a simple gift yang menyenangkan.
Kalo ketemu orang orang wangi seperti ini, pingin juga deketin, lalu tanya "Pake parfum apa? boleh tau rahasianya?"
Tapi aku tak pernah berani melakukannya, malu duluan. Jangan jangan aku yang bau dan si orang wangi itu gak suka deket deket sama aku. Minder aja gitu.
Aku sadar banget, aku bukan golongan manusia manusia wangi itu. Wanginya kadang-kadang aja, karena jarang pakai parfum. Tapi akhir akhir ini sejak pendemi, aku mulai membiasakan diri pakai parfum. Tujuannya selain agar bisa masuk golongan manusia manusia wangi, juga untuk ngetes indera penciuman, apakah masih berfungsi dengan baik atau nggak. Siapa tau, orang yang ketemu nanti juga bisa menyadari bahwa kemampuan indera penciumannya masih baik baik saja.
Gak wangi pun gak apa apa , asal jangan bau.
Tuesday, May 2, 2017
Tulip di Flower Dome Singapore
Aku kira pengunjung Flower Dome saat itu pasti kampungan semua. Hehhee... maksudnya, semoga yang kampungan gak cuman aku seorang. Karena beberapa kali aku menyaksikan petugas flower dome yang berjaga jaga di setiap sudut harus memperingatkan beberapa pengunjung yang pingin pegang pegang bunga tulip.
Pingin ketawa, coba ada tulip di Indonesia yaa...
bertahan berapa lama? ingat fenomena banyaknya kebun bunga yang rusak gara gara selfie pengunjung yang tak tahu diri kan....
Monday, October 26, 2015
Menikmati Opium di Anatolia
Monday, August 31, 2015
Aloha
Friday, August 21, 2015
Lombok Beaches
Thursday, August 6, 2015
decholicious cheese cake
Pakde Cholik sebentar lagi berulang tahun. Dan kali ini beliau "meminta" sepotong kue untuk memeriahkan ulang tahunnya. Hhhm... aku pikir, kue nya harus sangat special. Bisa saja hanya sepotong kue kecil, tapi wajib hukumnya mengandung keajaiban yang bisa membuat penikmatnya tak mampu berkata kata karena kelezatannya, juga cukup membuat kokinya tersenyum karena mudah membuatnya.... atau bisa juga membuat pembaca resepnya langsung terbelalak tak percaya? hehehehe... aku menulis terbelit belit dan membingungkan ya?
Baiklah, setelah membuka-buka koleksi resep cake, lalu browsing sana sini, hinggaplah aku pada sebuah akun youtube Ochikeron yang membagikan cara menyulap cheese cake secara ajaib hanya dengan 3 bahan saja !
Ya, cukup 3 bahan saja, gak perlu ribet, gak perlu bongkar-bongkar lemari untuk mengumpulkan banyak macam bahan kue. Awalnya aku juga gak percaya, ini pasti kerjaan jin... ini pasti pake edit sana sini..... ini pasti ada yang gak bener. Mana mungkin 3 bahan saja bisa bikin cheese cake? Biasanya cheese cake itu bahannya banyak, cara bikinnya ribet, harus ini harus itu...
Ternyata cheese cake yang ini benar-benar ajaib, Saudara-saudara !!!!
Cara membuatnya juga sangat mudah. Perhatikan benar benar, dan lakukan sesuai petunjuk .
** Pisahkan putih telur dan kuningnya. Simpan putih telurnya di kulkas.
** Panaskan oven 170 derajat celcius.
** Lelehkan coklat putih dengan cara di tim. Hati hati ya, jangan sampai coklat putihnya kemasukan air.
** Sementara itu, ambil putih telur yang disimpan di kulkas tadi, lalu kocok menggunakan mixer sampai kaku. Sisihkan.
** Siapkan loyang, lapisi dengan kertas roti/kertas minyak. Sebaiknya kertasnya tadi diolesi minyak/mentega terlebih dahulu, agar mudah melepaskannya nanti.
** Setelah coklat putihnya sudah leleh dengan sempurna, angkat dari kompor. Masukkan cream cheese, aduk hingga rata. Kemudian masukkan kuning telur satu persatu, aduk lagi hingga tercampur sempurna.
** Masukkan 1/3 putih telur, aduk hingga rata. Masukkan lagi 1/2 nya, lalu aduk, dan lakukan hal yang sama hingga semuanya tercampur rata.
** Tuang adonan ke loyang.
** Masukkan loyang tadi ke dalam oven, dan beri air panas secukupkan di sekitar loyang.
** Panggang dalam suhu 170 derajat celcius selama 15 menit pakai panas atas bawah
** Panggang dalam suhu 150 derajat celcius selama 15 menit pakai panas bawah saja
** Diamkan di dalam oven yang sudah mati, hingga panasnya habis.
Dan hasilnya adalah cheese cake yang sangat ajaib! Beberapa orang yang sudah menikmatinya memberi komentar sangat sangat sangat positif, hehehee... alhamdulillah yaaa.
Penasaran banget kan dengan kue ajaib ini, mari mari silahkan berguru langsung pada masternya di Three Ingredients Souffle Cheesecake. Oh ya, resep yang disini, sudah aku modifikasi sedikit ya...
Karena membuat cheese cake ajaib ini niat awalnya adalah special buat Pakde Cholik, maka dengan semena-mena aku pun menyisipkan nama pakde cholik ke dalam judul kue ajaib ini, hehehehe.... dan namanya adalah Decholicious Cheese Cake. Keren kan namanya?
Pasti Pakde Cholik yang baca postingan ini bilang "Lebih keren lagi kalo saya bisa mencicipinya"
Jangan khawatir Pakde, untuk mengantisipasinya saya langsung meluncur ke rumah Pakde begitu kue ini selesai dibuat, saya juga ingin mengirimkan kue yang fresh from the oven. Alhamdulillah siang tadi saya berhasil memaksa Pakde Cholik untuk mengantar piknik di tepi sungai Brantas. Saya membawa bekal sederhana dari rumah, beberapa bungkus rujak cingur (semoga Pakde suka ya... ), lalu Pakde membawa kami ke tempat yang sangat strategis di tepi sungai.
Dija yang turut serta piknik di siang bolong itu kegirangan melihat sawah padi yang sudah masuk masa panen, ladang jagung yang luas, dan pastinya sungai brantas yang besaaaaar. Apalagi setelah selesai makan siang di tepi sungai, kami naik perahu menyeberangi sungai. Dija tak henti hentinya bernyanyi di atas perahu.
Piknik yang sederhana dan cukup singkat, tapi terasa sangat menyenangkan. Terima kasih sekali untuk Pakde Cholik yang mau menemani kami piknik di siang bolong di tepi sungai, dan berwisata perahu. dan postingan ini special untuk pakde, termasuk kuenya juga, hehehhee
![]() |
| serah-terima Decholicious CheeseCake |

















































