Monday, February 9, 2009

Uang Receh


Setiap hari, aku harus menyiapkan segenggam penuh uang receh, pecahan 100 atau 200. uang ini diperuntukkan bagi pengemis dan pengamen yang setiap hari meminta uang, tidak hanya ke tokoku, tetapi setiap toko di sepanjang jalan merdeka, dan mungkin juga di jalan-jalan lain. Awalnya aku tidak keberatan dengan rutinitas itu. Masa sih, dimintai uang 100 rupiah saja keberatan? Bukankah keuntungan setiap hari yang aku peroleh jauh lebih besar dari sekedar segenggam uang receh 100-an….

Tapi… lama kelamaan aku bosan dan muak!
Pertama karena pengemis dan pengamen itu meminta setiap hari. Aku telah memperhatikan, bahwa setiap hari itu para pengemis dan pengamen yang meminta uang adalah orang-orang yang sama. Dan kalau diperhatikan lebih seksama lagi, mereka memiliki jadwal tersendiri. Ada yang beroperasi pagi jam 9 pagi…. Dan seterusnya orang itu akan datang jam 9 pagi. Ada pula yang siang… sore… bahkan ada yang sehari datang mengemis 2 kali! Pagi dan malam. Setiap hari, bertemu pengemis dan pengamen yang sama.

Kedua karena kadang mereka sangat mengganggu. Seringkali ketika tokoku sedang rame, dan aku sedang pusing menghadapi pembeli yang crowded, ada pengamen yang malah bernyanyi keras-keras. Ampun deh, ya kalo suaranya enak di telinga, lha yang ini benar-benar gak karuan. Dan jika aku dari jauh menolak, dengan isyarat, ada yang langsung pergi dengan mengomel, ada pula yang malah dengaja meneruskan bernyanyi dengan suara paraunya sampai aku atau pegawaiku datang memberinya uang.

Ketiga karena…. Sudah menjadi rahasia umum jika pengamen atau pengemis tidaklah semiskin yang kita kira. Pernah dengar rahasia semacam itu kan?
Adikku bahkan terobsesi ingin menyewa detektif bayaran yang bisa menguntit setiap pengemis atau pengamen yang setiap hari meminta ke tokoku itu, sampau ke rumahnya masing-masing. Adikku ingin detektif itu bisa mengambil foto rumah secara lengkap para pengamen dan pengemis, termasuk isi rumahnya, dan daftar kekayaannya. Siapa tau rumahnya bagus, punya TV dengan seperangkat DVD player dan sebagainya, kulkas maupun sepeda motor. Tapi dimana ya bisa menyewa detektif seperti itu? Ehehehee…

Seorang petugas parker yang sering mangkal di depan tokoku pernah bercerita. Bahwa dia mengenal dua orang pengemis, karena tinggal di desa yang sama. Menurut ceritanya, dua orang pengemis itu sebenarnya kaya. Rumahnya berdinding bata (bukan bambu), anaknya semuanya sekolah sampai SMA dan seluruh keluarganya berdandan bagus. Bahkan setiap hari, salah satu pengemis itu diantar oleh cucu lelakinya dari desanya menuju jalan merdeka jombang dengan menggunakan sepeda motor. Nah lho…..

Aku pernah iseng, berniat memotret mereka satu persatu dengan kameraku. tapi gagal total. Karena tampaknya mereka malu. Ketika mereka datang ke toko dan menjulurkan tangannya, aku datang membidiknya dengan kameraku sambil membawa uang receh, eh mereka malah pergi sambil menundukkan kepala agar tidak kena foto. Malukah?

Keempat karena… aku pikir memberi mereka uang setiap hari sama sekali tidak mendidik. Sebagian besar mereka adalah orang-orang usia produktif, yang sebenarnya masih kuat bekerja. Ada pengemis yang masih berusia sekitar 30, pria, berbadan sehat dan tegap. Sungguh tidak pantas dengan profesinya sebagai peminta-minta. Makanya, sometimes kalo aku membeli sesuatu, martabak manis misalnya. Jika ada beberapa penjual martabak manis yang berjejer, aku bakalan memilih yang penjualnya adalah anak muda. Karena aku sangat menghargai kemauan mereka untuk bekerja, untuk berusaha mendapatkan uang dengan cara yang baik. Bukan dengan mengamen atau mengemis. Berbeda dengan Ibuku yang akan memilih beli di penjual yang tua, karena menurut Ibu, penjual yang tua pasti memiliki keluarga (anak-istri) yang bergantung kepadanya. Well, pendapat dan cara pandang orang terhadap setiap masalah memang bisa berbeda. Boleh saja kan?

Lagipula, ada banyak cara menyalurkan zakat dan sedekahku. dan ada lebih banyak orang yang lebih pantas menerima sedekah. Tidak harus dengan memberi uang receh kepada para pengemis dan pengamen kan??
Jadi kini… aku tidak mau lagi repot-repot menyiapkan segenggam uang receh setiap hari. Cukup ada sedikit saja… secukupnya. Untuk pengemis yang benar-benar tua dan tidak mampu bekerja.

Hhm… tidak apa-apa kan?

27 comments:

  1. salam. permisi ya mau komentar..
    tulis saja di depan tokonya "Pengamen dan pengemis dilayani setiap hari Jum'at"
    tapi toko tutup hari Jum'at...hi..hi..hi.. see you at friday.

    ReplyDelete
  2. ya solusinya tawari mereka kerja di toko saja..Oke??? jadi mereka ngga jobless...

    ReplyDelete
  3. Mnurutku sih :

    emmg kalo yg muda & keliatan kuat bekerja, kyknya emang ga mendidik kalo kita kasih, ...

    ...ehya aku pernah denger pemkot/pemda di daerah mana gitu .... mereka menerapkan peraturan, buat yg ngasih uang kepada pengemis/anak jalanan / pengamen di jalanan kena denda malah

    .. ada jg yg ngasih pengumuman, pengemis & pengamen hanya hari tertentu saja ... pi emang mreka pada bisa baca smua ????

    ya ... mungkin, kalo kita melihat dan meniatkan kita ngasih karena kasihan, terpaksa , ato kesel, mnurutku sih mending ga usah ngasih ...

    ... kalo niatnya karena DIA yang menciptakan langit & bumi, keliatannya gak usah milih2 dan ga usah kepikiran mereka itu kecukupan ato tidak, ... urusan kita hanya sama DIA, ...

    Solusinya emang kompleks sih, kalo dibahas mesti bikin Departemen lagi .. he he he

    ReplyDelete
  4. sama dung mbak ...



    etha juga selalu nyiapin duit recehan ^-^

    ReplyDelete
  5. saia tadi baru baca artikel tentang pengemis yang jadi bos pengemis dan sehari bisa dapet 200-300ribu.
    nah kalo sebulan bisa 6-9 juta.

    pantes aja dia bisa punya motor, beli tanah ampe tunggangan sehari2 pake Honda CRV..

    weleh..weleh...

    coba deh cek ke sini

    ReplyDelete
  6. Sebuah pelajaran yang sangat berharga ...!!!

    ReplyDelete
  7. terkadang Tuhan mendidik kita dengan kejengkelan.
    kadang Tuhan mengajarkan arti ikhlas adlaah dari mereka.
    tanpa bertanya, rantai apa yang akan terjadi berikutnya.
    mungkin Tuhan hanya ingin memberikan gambaran kepada kita berapa harga aslinya uang recehan kita.

    who knows. semua bisa kita pandang dari 2 sisi . seperti filsafat yang selalu dibawa uang receh.

    2 sisi yang tak terpisahkan

    ReplyDelete
  8. Mendingan recehan itu disalurkan via http://coinachance.com

    Salam kenal dari Solo :D

    ReplyDelete
  9. hehe.. aku jadi teringat dengan banyak peristiwa saat membaca postingan ini. Beberapa kali kadang aku juga seperti itu..

    Ada juga ibu-ibu yang (sepertinya) masih muda, tapi dia menutup muaknya dengan kerudung sedemikian rupa sehingga wajahnya tidak terlalu terlihat, kemudian (mungkin mencoba) bersuara agak parau.. tapi sayanganya.. jalannya masih terlihat tegap..

    hasilnya ya... aku gak kasih dia..

    tapi...

    kadang setelah itu aku berpikir.. "sapa tahu yang tadi itu malaikan sedang menyamar menjadi pengemis dan sedang mengetes kadar keimanan dan keikhlasan kita??"

    mampus deh... orangnya udah kadung pergi..

    wallahu alam bishshowab

    ReplyDelete
  10. hmm... gpp elsa, memang kadang mengesalkan. eh aku pernah investigasi utk majalah, dulu udah lama sih... memang ada desa yang mata pencaharian warganya adalah pengemis. dan jgn salah, rumah2 mrk memang lumayan bagus... dan anak2nya sekolah sampai SMA.

    ReplyDelete
  11. pernah disuatu warung ada seorang pengamen, gitar lumayan false dan nyanyi super remuk plus kaco, intinya dia cuman pingin ngemis, berkedok pengamen. aku panggil pengamen itu dan ku stem gitarnya yang false, suara gitar dah enak, ku berikan ke pngemis itu, ku bilang "kalo kerja yang bener mas", ku suruh dia nyanyi lagu yng paling bisa menurut dia. Yang terjadi, pengamen itu duduk disebelahku dan bilang "saya gak bisa nyanyi mas...". refren ceritanya adalah kami akhirnya makan berdua, lalu nngkrng sambil nyanyi bareng.

    ReplyDelete
  12. terkadang yang kita perkirakan sudah tua dan iba kepadnya juga belum tentu seperti yang sebenarnya, sampai kita ketahui dengan jelas dan akurat...

    ReplyDelete
  13. setuju banget mbak ..
    kadang kita sakit hatinya ternyata ada yg duit diterima cuman dibuat mabuk and judi sama para pengamen atau pengemis muda ..

    ReplyDelete
  14. Semoga daerah operasi mereka cukup sebatas di jalan Merdeka saja. Jangan sampai merembet ke arah utara hingga DAS Brantas. Aq yang susah.... :D

    ReplyDelete
  15. skedar cerita suatu hari pas aku beli bakso ada pengemis minta uang..aku kasih aja recehan..eh pas pengemisnya itu pergi, eh tukang baksonya ganti cerita klo rumah pengemis yg barusan aku kasi uang itu malah tingkat, wah berarti aku baru ngasi uang ama orang kaya..he3x

    oiya mbak..bisa tukeran link gak? linknya mbak elsa dah aku pasang di blogku..thankQ

    ReplyDelete
  16. di bus juga gitu sa, seringkali kalo ngamen gak jelas. ada sih yang sambil baca puisi, tapi entah dimana letak keindahan puisi itu saya gak ngerti sendiri. kalau nggak dikasi kadang suka melototi dan parahnya ada yang bilang, "nanti saya kasi kembaliannya kok"
    weleh..parah bgt.

    Negeri ini sudah semakin aneh saja.

    ReplyDelete
  17. di daerahku udah pernah diterapkan larangan memeberikan uang untuk pengamis dan beberapa daerah udah pernah disisir agar tidak ada pengemis,..tapi tak lama kemuadian, datang lagi pengemisnya,..perasaanku ngga menentu jadinya, antara kasihan, dan juga miris..bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah??

    ReplyDelete
  18. aku mau difoto neh, apa harus ngemis ya...

    ReplyDelete
  19. Ga salah, he-he-he...

    Sebab banyak org yg mmg miskin justru tidak meminta-minta setiap hari, yg masih muda dan kuat dan meminta2 mmg menjadikan minta2 sebagai 'profesi'nya, harus bisa dibedakan antara yg terpaksa dan yg memaksa untuk dikasihani.

    Kalau saya mbak, coba saja suruh dia melakukan sesuatu dahulu baru diberi upah, (misalnya suruh dia datang besok pagi untuk menyapu di depan toko) yg pasti upahnya akan lebih dari 100 rupiah, lihat saja apakah dia mau menerima pekerjaan tsb. Akan ketahuan siapa yg benar2 mau bekerja dan siapa yg tidak.

    Jgn terjebak dalam rasa kasihan yg tidak mendidik sebab namanya bukan mendatangkan kebaikan namun memelihara benalu.

    ReplyDelete
  20. mungkinkah ada dalang yang mengorganize ini semuah?

    ReplyDelete
  21. hmm.....

    ga mendidik emang kl ngasih ke pengemis yg masih usia produktif dan bertubuh sempurna a.k.a ga handycap :D

    ReplyDelete
  22. main kesini, where have you been? its been along time since third lebaran? [hayahhh!!!] wkwkwkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
  23. gw juga gak mau lagi ngasi ke pengamen.
    dan gw pernah liat mereka lagi ngumpul. terus bahas mereka bakal minta2 kemana.
    jadi gak lagi2 deh. mending ke lembaga zakat aja ddeh.

    ReplyDelete
  24. hhmmm,...kalo emang waktunya berbagi,,,ya dikasih aja yang agak banyak neng....shodqoh emang bisa nambah rejeki...ibarat "sumur, semakin sering diambil airnya..semakin bersih juga airnya"...pisss

    ReplyDelete

jangan lupa baca Basmalah sebelum komen...
"Bismillahirrahmanirrahiiiiiiim......"

and please, ANONYMOUS is not allowed.